Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

Generasi Digital “Pelindung Ideologi Bangsa

Oleh : Rio Riyanto ( SMAN 2 Jember )

Di dalam era globalisasi seperti saat ini, perkembangan di berbagai bidang banyak terjadi di hampir seluruh wilayah di dunia. Perkembangan tersebut menyebar dari satu negara ke negara yang lain, tak terkecuali Indonesia. Menurut pengertian dari Prof. Dr. Emmanuel Ritcher seorang guru besar Ilmu Politik dari Universitas Aashen, Jerman, berpendapat bahwa globalisasi adalah jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Jadi, sesuai dengan pengertian diatas, informasi, teknologi, dan komunikasi yang berkembang menjadi kian maju tersebut dapat menyatukan kontak kehidupan bermasyarakat yang semulanya terbatas pada wilayah-wilayah tertentu menjadi kehidupan bermasyarakat global yang tanpa batas (borderless). Meningkatnya arus informasi, teknologi, dan komunikasi inilah yang disebut sebagai era digital. Sebagai bangsa dengan total penduduk terbesar keempat di dunia, yakni sebesar 237.641.326 jiwa dengan 107,7 juta jiwa penduduknya adalah angkatan kerja yang mana berusia 15 tahun keatas (diambil dari hasil Sensus Jumlah Penduduk Indonesia per 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS)), para generasi muda ini yang sebagian besar merupakan angkatan kerja dituntut harus mampu mempertahankan kebudayaan bangsa agar tidak tergerus oleh kebudayaan bangsa lain dalam era baru ini. Karena tidak dapat dihindari bahwa generasi muda ini kelak akan menggantikan para pemimpin bangsa Indonesia.

Dalam menghadapi berbagai gempuran arus kebudayaan luar, generasi muda bangsa Indonesia terutama para pelajar dan mahasiswa haruslah memiliki sebuah pedoman dalam melestarikan adiluhur budaya bangsa, agar tetap kokoh tanpa harus melarang masuknya kebudayaan dari luar itu sendiri. Pedoman tersebut yakni ideologi bangsa ini, yaitu Pancasila. Pancasila bukanlah semata-mata hanya untuk pajangan namun harus diterapkan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebagaimana dengan negara-negara yang lain, pengertian dan penerapan ideologi sebuah negara wajib ditanamkan kepada setiap warga negaranya. Penanaman idelogi tersebut dapat dilakukan melalui pengenalan dan pembelajaran terutama melalui dunia pendidikan, agar generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa lebih memahami. Sebab, sesuai hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 27 sampai 29 Mei 2011 yang mana telah mewawancarai 12.065 responden yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pengusaha, TNI, Polri, serta profesi yang lainnya dimana mayoritas masyarakat berpendapat, bahwa cara yang paling tepat untuk memahami Pancasila yaitu melalui pendidikan (dikutip dari artikel Kompas.com “SBY Tekankan Pentingnya Revitalisasi Pancasila”). Dengan begitu, ideologi yang tertanam pada generasi muda di era digital ini dapat tetap kokoh dan senantiasa lestari.

            Generasi muda juga pada hakikatnya merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam setiap sendi-sendi kehidupan bangsa ini, baik untuk saat ini maupun kedepannya. Seperti yang tersebut sebelumnya, generasi muda nantinya akan menjadi pengganti dari para pemimpin bangsa ini, dan selain itu dapat dikatakan pula bahwa generasi muda juga merupakan penerus dan pelurus bangsa. Namun kenyataannya, generasi muda saat ini cenderung lebih berdiam diri (pasif). Generasi muda kini lebih mementingkan nasib mereka masing-masing dibandingkan dengan kepedulian mereka terhadap bangsa. Kalaupun ada generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa yang peduli terhadap bangsa ini, jumlah yang adapun tidak banyak seperti mereka para generasi muda yang pasif. Persatuan dan kesatuan yang mengikat para generasi muda terdahulu bagaikan tergerus dalam era digital dan arus globalisasi saat ini. Menurut Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT), Taufan E.N. Rotorasiko, derasnya arus globalisasi perlahan-lahan telah mengikis Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa. Pancasila semakin jarang menjadi denyut nadi kehidupan anak-anak muda di masa sekarang (dikutip dari artikel Viva.co.id “Globalisasi Gerus Nilai-nilai Pancasila”). Gejala-gejala lain yang muncul dalam generasi muda saat ini antara lain berupa penggunaan narkoba, pergaulan bebas, tawuran pelajar, dan gaya hidup berpesta pora yang pada dasarnya bukanlah kebudayaan asli dari bangsa Indonesia. Meskipun dapat ditemui dalam sendi-sendi kehidupan tradisional yang berupa pesta adat di beberapa wilayah di Indonesia, salah satu contohnya seperti acara Petik Laut yang ada di kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Hal itu tentu sangat berbeda dengan pesta pora dari kehidupan bangsa barat yang dilakukan oleh para generasi muda kita. Yang membedakan keduanya yaitu tujuan dari acara tersebut. Pesta adat yang ada di beberapa wilayah di Indonesia sebagian besar bertujuan sebagai bentuk rasa syukur atas segala sesuatu dari apa yang mereka peroleh, ataupun juga hanya untuk menyambut tamu-tamu daerah. Sementara, pesta pora dari kehidupan bangsa barat hanya sebagai hiburan semata, dan tak sedikit pesta tersebut disertai dengan penggunaan narkoba maupun minum-minuman keras. Tentu, hal itu bertentangan dengan Pancasila sila ke-2, yaitu Kemanusia yang beradil dan beradab.

Selain masalah dalam negeri yang berasal dari sikap dan perilaku para generasi muda bangsa kita tadi, adapun masalah lain yang berupa ancaman yang berasal dari luar negeri. Ancaman bagi bangsa Indonesia saat ini bukan lagi dalam bentuk kontak persenjataan, namun ancaman tersebut berupa gerakan-gerakan separatis dan teroris yang masuk ke Indonesia melalui dunia maya (seperti: Facebook, Youtube, dan laman-laman lainnya yang tersedia di internet). Ancaman tersebut memberikan dampak dalam bentuk paham, budaya, dan ideologi luar yang bertentangan dengan ideologi Pancasila itu sendiri. Dengan banyaknya kemudahan yang diperoleh generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa dalam mengakses hal tersebut, hal itu dapat menyebabkan meluasnya penyebaran ancaman yang ada dan dapat mempengaruhi para generasi muda kita. Dari kemudahan yang diperoleh para generasi muda itulah yang justru menjadi bumerang bagi bangsa ini. Maka, perlu adanya penanaman dan penguatan ideologi kepada generasi muda guna membentengi bangsa dari pengaruh yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Di hampir setiap peringatan Hari Lahirnya Pancasila, partisipasi generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa dalam memperingatinya masih terbilang cukup baik. Partisipasi tersebut ditunjukkan dengan banyaknya keikutsertaan yang dilakukan oleh generasi muda dalam mengikuti lomba peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang diadakan oleh institusi-institusi tertentu. Salah satu contohnya seperti keikutsertaan generasi muda dalam lomba blog mengenai peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang diselenggarakan oleh Pusaka Indonesia. Peserta yang mengikuti berjumlah 174 orang yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dan beberapa warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negeri (dikutip dari artikel Pusakaindonesia.org “Anak Muda, Social Media, Pancasila”). Selain itu, pada hari Senin tanggal 1 Juni 2015 tepat pukul 08.10 WIB, kata kunci “Pancasila” menduduki trending topic dalam media sosial Twitter. Akun-akun yang menyematkan kata kunci “Pancasila” tersebut, dalam kicauannya ada yang mengucapkan selamat dan ada pula yang bertanya mengonfirmasi (dikutip dari artikel Detik.com “Hari Kelahiran Pancasila Bergaung di Media Sosial”). Hal itu menandakan, bahwa tingkat partisipasi generasi muda pengguna dunia maya di era digital ini dalam menghargai dan melestarikan Pancasila sebagai ideologi bangsa masih terbilang cukup baik.

Dan selanjutnya, untuk memenuhi kelengkapan data, diambil sejumlah data dengan melakukan observasi di lapangan. Pengambilan data dilakukan dengan metode kuesioner (angket) jenis pertanyaan tertutup (closed question), artinya responden tinggal memilih jawaban singkat yang telah disediakan oleh pelaku observasi (observer) tanpa harus memberikan jawaban tambahan. Jumlah responden yakni 50 orang, berusia antara 16 sampai 22 tahun, dan tanpa pembeda faktor jenis kelamin. Serta profesi yang dimiliki oleh para responden adalah sebagai pelajar dan atau mahasiswa. Penyebaran kuesioner (angket) tersebut disebar kepada reponden melalui 2 cara, yakni secara langsung dan tidak langsung yang dilaksanakan pada tanggal 31 Mei sampai 2 Juni 2015. Penyebaran secara langsung dilakukan dengan pemberian kuesioner (angket) kepada responden dengan berlokasi di sekitar Alun-alun Kota Jember pada tanggal 31 Mei 2015, dengan jumlah 40 responden. Dan penyebaran secara tidak langsung disebar melalui media sosial (dalam hal ini Facebook) pada tanggal 1 sampai 2 Juni 2015, dengan jumlah 10 responden. Dari kegiatan observasi tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut:

 

Dari beberapa diagram diatas, dapat diperoleh penjelasan berikutnya. Pada diagram 1, responden yang mengetahui bahwa pada tanggal 1 Juni sebagai peringatan Hari Lahirnya Pancasila mencapai 84% (42 orang). Sementara, untuk responden yang tidak mengetahui hanya sebesar 16% (8 orang). Hal ini menunjukkan pemahaman akan sejarah lahirnya Pancasila pada generasi muda masih terbilang cukup tinggi, meski dapat ditemui beberapa pemuda yang lupa akan hal tersebut. Kepahaman generasi muda akan sejarah lahirnya Pancasila inilah yang dapat menjadi modal penting untuk menjadikan Pancasila sebagai identitas bangsa. Hal tersebut juga dapat menjadi penghambat atau bahkan pencegah atas fenomena melemahnya nilai-nilai budaya lokal dan ditinggalkannya Pancasila sebagai identitas bangsa. Media sosial pun yang sebagai ruang gerak generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa dalam berinteraksi dengan masyarakat global, dapat digunakan sebagai media sosialisasi serta penguatan akan nilai-nilai Pancasila. Seperti dengan aksi pengunggahan foto ataupun video, maupun karya-karya tulis lainnya tentang budaya asli Indonesia. Hal itu tidak hanya dilakukan pada saat peringatan-peringatan tertentu saja (seperti peringatan Hari Lahirnya Pancasila), namun akan lebih baik apabila dilakukan setiap saat secara kontinyu. Dengan begitu, hal ini akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa pada setiap generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa. Terlebih lagi, media sosial juga dapat digunakan sebagai media kampanye budaya (cultural campaign) agar tidak ada lagi negara-negara yang berani mengklaim budaya bangsa Indonesia. Menurut Taufan E.N. Rotorasiko, Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT), dengan menguatnya identitas bangsa, sudah pasti bangsa ini akan dihormati oleh negara-negara lain di dunia. Dengan begitu pula, rakyat Indonesia akan lebih bermartabat di mata dunia internasional, memperkokoh posisi bangsa Indonesia di mata dunia, serta menambah kepercayaan diri bangsa (dikutip dari artikel Viva.co.id “Globalisasi Gerus Nilai-nilai Pancasila”).

Selanjutnya, pada diagram 2 dijelaskan tentang jumlah prosentase responden yang menyetujui masuknya budaya asing ke Indonesia. Prosentase dalam diagram tersebut terbagi ke dalam tiga golongan jawaban responden, yaitu setuju, kurang setuju dan tidak setuju. Responden yang memilih setuju mencapai 86% (43 orang), responden yang kurang setuju hanya sebesar 6% (3 orang), dan responden yang tidak setuju sebesar 8% (4 orang). Hasil observasi ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih terbuka terhadap budaya baru. Sikap terbuka inilah yang membuat Pancasila berada dalam kondisi yang rentan terhadap gerusan budaya-budaya asing. Media internet sendiri mengambil andil yang sangat besar terhadap masuknya budaya asing ke Indonesia. Sebagai negara dengan pengguna internet terbanyak peringkat ke-8 di dunia dan ke-3 di Asia, dengan pengguna internet aktif yang mencapai 55 juta pengguna (sekitar 22,1% dari total penduduk negara Indonesia), faktor inilah yang mendorong masuknya budaya asing ke Indonesia menjadi lebih besar (data bersumber dari artikel forum.kompas.com dan www.telkomflexi.com). Dengan gempuran arus kebudayaan asing inilah, generasi muda memerlukan sebuah saringan kebudayaan. Saringan kebudayaan tersebut juga harus didampingi dengan kesadaran budaya dari para generasi muda itu sendiri, terutama di kalangan para pelajar dan mahasiswa. Kesadaran budaya ini merupakan kesadaran dimana menempatkan kebudayaan asli bangsa Indonesia sebagai kebudayaan yang lebih menarik daripada kebudayaan luar. Karena sangat miris jika generasi muda bangsa ini lebih mengagung-agungkan kebudayaan orang lain. Dengan berkaca pada fenomena aliran musik Korea beberapa tahun lalu (lebih dikenal sebagai musik K-Pop), hal ini menunjukkan bahwa generasi muda bangsa ini hanya sebagai pengikut belaka. Generasi muda pada saat itu terkesan meniru aliran musik tersebut, dengan bukti yaitu banyak sekali munculnya grup musik anak-anak muda Indonesia yang beranggotakan beberapa orang (lebih dikenal sebagai boyband dan girlband). Pada dasarnya, hal itu bukan sebuah masalah yang besar bagi negara. Namun, setidaknya generasi muda harus mempunyai semangat yang tinggi dalam berkreasi secara mandiri tanpa perlu mencontek hasil karya milik orang atau bangsa lain. Terlebih lagi, jika hasil kreasi-kreasi dari para generasi muda tersebut dapat mendunia seperti halnya aliran musik K-Pop itu sendiri. Berbanding terbalik dengan masalah generasi muda yang mengagung-agungkan kebudayaan bangsa lain tersebut, justru kebudayaan bangsa Indonesia sendiri dinilai lebih menarik minat warga negara asing daripada generasi muda bangsa ini. Sebagai salah satu contohnya yaitu dimasukkannya mata kuliah Bahasa Jawa di perguruan tinggi Australia National University (ANU), Canberra. Sebagai tugas akhir mata kuliah disana, diproduksilah sebuah video drama berbahasa Jawa dengan judul “Sri Ngilang” yang dikarang oleh Dr. George Quinn. Drama tersebut telah dipublikasikan di beberapa media televisi baik di Australia maupun Indonesia dan ditonton oleh lebih dari 360 ribu penonton di Youtube. Dijelaskan pula oleh salah satu aktris dalam drama tersebut, bahwa dengan mempelajari Bahasa Jawa dapat memberikannya wawasan yang dalam tentang budaya Jawa dan cara orang Jawa berkomunikasi satu sama lain (diambil dari artikel Abc.net.au “Mahasiswa Australia: Bahasa Jawa adalah Bahasa yang Penuh Rasa Hormat”). Dari permasalahan tersebut, tingkat kesadaran akan budaya yang dimiliki oleh generasi muda di Indonesia seharusnya lebih tinggi dari warga negara asing. Semakin lemahnya kesadaran ini, tentu identitas generasi muda sebagai orang Indonesia pun akan semakin pudar. Generasi muda juga dituntut harus mampu mempertahankan budaya dan nilai-nilai lokal. Sebagai contoh aksi nyata yaitu dengan mengikuti dan mendukung secara aktif acara-acara kedaerahan yang bertemakan budaya daerah. Serta, peran pemerintah dalam membuat kebijakan pun juga diperlukan. Pembuatan kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan dimasukkannya kembali bahasa maupun unsur kebudayaan daerah lainnya dan pendidikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Karena Pancasila adalah bagian yang sangat penting bagi pendidikan karakter bangsa, sesuai tutur kata dari Ketua Umum Aliansi Nasionalis Indonesia (Anindo), Edwin Henawan Soekowati (dikutip dari artikel Berita Nasional Okezone.com “Pentingnya Pancasila dalam Kurikulum Pendidikan Nasional”).

Pada diagram 3, ditampilkan prosentase tentang kebudayaan yang lebih dipilih oleh responden. Pada posisi pertama diduduki oleh pilihan kebudayaan campuran (barat dan timur) sebesar 66% (33 orang), posisi kedua yaitu pilihan kebudayaan timur sebesar 28% (14 orang), dan posisi terakhir diduduki oleh kebudayaan barat sebesar 6% (3 orang).  Berdasarkan hasil tersebut, seperti pada pernyataan sebelumnya, generasi muda cenderung lebih terbuka terhadap budaya baru. Generasi muda lebih memilih untuk hidup bersosialisasi dengan dua cara hidup berbudaya, yakni berbudaya barat dan timur. Hal ini tentu bisa saja berdampak baik maupun buruk. Hal ini dinilai berdampak baik, dikarenakan generasi muda dapat meniru kebiasaan atau perilaku-perilaku yang baik dari budaya barat. Seperti etos kerja yang tinggi dan sikap disiplin dari negara-negara barat yang sudah maju. Dengan begitu, hal ini dapat meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya membawa bangsa Indonesia menjadi setara dengan negara-negara maju lainnya. Di sisi lain, hal ini juga dinilai membawa dampak yang buruk. Dikarenakan paham liberalisme yang dimiliki oleh budaya barat dapat merubah arah ideologi yang dimiliki oleh generasi muda bangsa Indonesia, dari ideologi Pancasila menuju paham liberalisme. Pada akhirnya, rasa nasionalisme pun juga akan hilang. Serta, hal ini juga dapat memudarkan atau bahkan menghilangkan konsep swadeshi (cinta produk dalam negeri) dari bapak pergerakan nasional India, Mahatma Gandhi, karena terlalu banyaknya produk-produk asing yang lebih disukai generasi muda Indonesia. Adapun dampak buruk lainnya dari budaya barat diantaranya perilaku seks bebas, penggunaan narkoba, munculnya sikap individualisme, serta gaya hidup pesta pora yang pada dasarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pada contoh kasus baru-baru ini, ditemukan informasi akan adanya undangan pesta bikini Splash After Class yang beredar di media sosial untuk siswa-siswi SMA/SMK di Jakarta setelah mereka mengikuti ujian nasional. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Yohana Yambise, hal ini merupakan sesuatu dari percontohan budaya barat yang sangat tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Hal ini juga perlu dikaji, karena tidak semua budaya dapat diterima (diambil dari Kompas.com “Menteri Yohana: Pesta Bikini Budaya Barat yang Tak Bisa Diterima”). Generasi muda pun kini harus memiliki peran aktif dalam menyaring budaya-budaya asing. Tanpa memboikot masuknya budaya asing, generasi muda harus mampu memilah mana yang baik untuk diambil dan mana yang tidak. Serta penggunaan internet khususnya media sosial bagi para generasi muda terutama para pelajar dan mahasiswa, semestinya digunakan secara arif dan bijaksana. Agar manfaat yang diperoleh dari penggunaan internet tersebut dapat berupa hal yang positif, tanpa merusak moral dari para generasi muda bangsa kita.

Dari seluruh penjelasan diatas, pada dasarnya ideologi merupakan identitas dari sebuah bangsa yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Setiap bangsa yang memiliki identitas yang kuat, sudah pasti akan dihormati oleh negara-negara lain di dunia. Peran generasi muda terutama kalangan para pelajar dan mahasiswa dalam melindungi dan mempertahankan eksistensi Pancasila sebagai identitas bangsa dalam era digital dan arus globalisasi ini juga harus ditingkatkan. Karena tidak dapat dihindari, bahwa para generasi muda ini kelak akan menjadi pengganti dari para pemimpin bangsa ini dan dapat dikatakan pula bahwa generasi ini juga merupakan generasi penerus dan pelurus bangsa kedepannya. Cara hidup berbudaya timur juga tidak selantasnya ditinggal begitu saja oleh generasi muda terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, hanya saja pelaksanaannya yang menggunakan teknik modern, namun, tetap memegang teguh kebudayaan timur. Internet pun khususnya media sosial, sebagai media dan ruang gerak generasi muda saat ini serta sebagai jalur yang masif bagi masuknya budaya asing harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Agar identitas generasi muda kita di mata dunia internasional sebagai orang Indonesia tidak lekas hilang begitu saja. Aksi-aksi yang dapat dilakukan oleh setiap generasi muda terutama kaum pelajar dan mahasiswa, diantaranya:

1.      Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2.      Menyaring kebudayaan asing yang sesuai dengan kepribadian bangsa, tanpa harus memboikot masuknya kebudayaan asing;

3.      Menumbuhkan kesadaran budaya dalam diri;

4.      Meningkatkan rasa cinta dan rasa memiliki atas kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia;

5.      Mengikuti dan mendukung secara aktif acara-acara kedaerahan yang bertemakan budaya daerah;

6.      Mencintai produk dalam negeri;

7.      Berusaha mengikuti perkembangan dunia agar tidak tertinggal;

8.      Memegang teguh kebudayaan timur sebagai identitas diri di mata dunia internasional;

9.      dan menggunakan internet khususnya media sosial secara arif dan bijaksana.

Demi berjalan dan terlaksananya itu semua, pemerintah juga sepatutnya turun aktif dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tertentu. Seperti dengan dimasukkannya kembali bahasa maupun unsur kebudayaan daerah lainnya dan pendidikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Karena awal dari sebuah aksi, yaitu melalui pengenalan dan pembelajaran.

Sumber Pustaka

ABC Radio Australia. (2015). Mahasiswa Australia: Bahasa Jawa adalah Bahasa yang Penuh Rasa Hormat. (Online). Dari http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-03-12/mahasiswa-australia-bahasa-jawa-adalah-bahasa-yang-penuh-rasa-hormat/1423799 (Diakses 3 Juni 2015)

Badan Pusat Statistik (BPS). (Online). Dari http://sp2010.bps.go.id (Diakses 1 Juni 2015)

Cholisin. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA/MA Kelas XII. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Firdaus, Fahmi. (2015). Pentingnya Pancasila dalam Kurikulum Pendidikan Nasional. (Online). Dari http://okezone.com/read/2015/03/07/337/1115030/pentingnya-pancasila-dalam-kurikulum-pendidikan-nasional (Diakses 3 Juni 2015)

Forum Kompas. (Online). Dari http://forum.kompas.com/jaringan-telekomunikasi-dan-internet/258535-10-negara-dengan-jumlah-pengguna-internet-terbanyak.html (Diakses 2 Juni 2015)

Kalsum, Umi. (2011). Globalisasi Gerus Nilai-nilai Pancasila. (Online). Dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/224119-globalisasi-gerus-nilai-nilai-pancasila (Diakses 30 Mei 2015)

Liu, Hidra. (2011). SBY Tekankan Pentingnya Revitalisasi Pancasila. (Online). Dari http://nasional.kompas.com/read/2011/06/01/14145047/SBY.Tekankan.Pentingnya.Revitalisasi.Pancasila (Diakses 30 Mei 2015)

Santoso, Edi. (2013). Anak Muda, Social Media, Pancasila. (Online). Dari http://www.pusakaindonesia.org/anak-muda-social-media-dan-pancasila/ (Diakses 30 Mei 2015)

Saut, Prins David. (2015). Hari Kelahiran Pancasila Bergaung di Media Sosial. (Online). Dari http://news.detik.com/read/2015/06/01/082008/2930207/10/hari-kelahiran-pancasila-bergaung-di-media-sosial (Diakses 1 Juni 2015)

Telkom Indonesia. (Online). Dari http://www.telkomflexi.com/berita/indonesia-peringkat-3-negara-berpengguna-internet-terbanyak-di-asia/ (Diakses 2 Juni 2015)

Universitas Aashen Jerman. (Online). Dari http://www.ipw.rwth-aachen.de/person/ric.html (Diakses 1 Juni 2015)

Updated: June 9, 2015 — 11:08 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar