Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

Pancasila: Dukungan Bangsa untuk Generasi Muda

Oleh : Mutiara Vira Z ( SMAN 1 Bangil )

Saat ini perkembangan dunia sedang berada dalam era globalisasi dimana jarak, waktu, dan ruang seakan melebur menjadi sesuatu yang dapat dijangkau dengan mudah. Kemajuan dunia dalam infrastruktur di segala bidang terutama teknologi, telekomunikasi, dan transportasi mendukung cepatnya laju perkembangan dan penyebaran informasi. Kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis terbentuk melalui proses-proses sosial yang selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Proses-proses sosial tersebut selalu mempengaruhi satu sama lain, baik dalam ruang lingkup bermasyarakat, bersuku-suku, berbangsa maupun bernegara. Dengan semakin meluasnya penyebaran informasi secara menyeluruh membuat semakin cepatnya juga proses akulturasi bahkan asimilasi budaya-budaya dalam masyarakat. Hal ini berdampak kaburnya batas-batas geografis, ekonomis, politik, dan terutama batas budaya dalam masyarakat.

Dengan pesatnya laju perkembangan era globalisasi ini, nilai-nilai dan identitas bangsa, khususnya Indonesia, semakin tergerus dan terancam akan melebur dengan nilai-nilai asing baru. Nilai-nilai luhur tradisional seperti norma-norma, kesederhanaan, kekeluargaan, gotong royong, solidaritas sosial, dll. akan semakin melemah dan tersingkir oleh nilai-nilai asing seperti modernisasi, westernisasi, individualisme, materialisme, dll.  Tidak hanya dalam aspek sosial-budaya, aspek politik, ekonomi, serta hukum, pertahanan, dan keamanan juga akan ikut terancam.

Untuk mempertahankan kemurnian nilai-nilai luhur sebagai identitas, pandangan hidup, dan tujuan masyarakat, peran ideologi sangat diperlukan. Ideologi, khususnya dalam suatu negara, berfungsi sebagai landasan atau pedoman atas orientasi dasar dan norma-norma untuk mempersatukan keberagaman dalam satu pandangan yang sama. Sebuah ideologi yang kokoh dan mendalam dapat membendung atau setidaknya menghambat gempuran arus peleburan dan kebebasan yang semakin menggerus kepribadian bangsa. Namun ideologi yang kokoh dan mendalam sekalipun jika tidak dihayati dan diamalkan oleh segenap warga negara, akan terkikis dan lambat laun tergantikan oleh ideologi baru dengan tujuan-tujuan baru yang dipandang lebih modern dan akurat dengan situasi perubahan zaman.

Ideologi merupakan dasar berdirinya suatu negara. Ideologi menggabungkan sekumpulan manusia yang diibaratkan mikroorganisme menjadi satu kesatuan organisme berdaulat yang disebut negara. Istilah ideologi dicetuskan oleh Antoine Destutt de Tracy pada tahun 1796 untuk mendeskripsikan salah satu aspek studinya mengenai ilmu pengetahuan yang membahas ide-ide. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ideologi adalah sebuah sistem kepercayaan yang menerangkan, membenarkan suatu tatanan yang ada atau yang dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya. Ideologi berasal dari etimologi kata idea dan –logia dalam bahasa Yunani. Idea (akar kata idein yang berarti melihat) berarti gambaran, perumusan, pola, atau bentuk. Sedangkan –logia (akar kata logos yang berarti sistem pemikiran) berarti studi pembelajaran atau ilmu pengetahuan. Jadi dapat disimpulkan secara singkat, ideologi secara harfiah adalah perumusan atau penggambaran suatu sistem pemikiran.

Negara Indonesia menganut ideologi Pancasila yang merupakan hasil rumusan para pendiri negara. Prinsip-prinsip dan kata ‘Pancasila’ dikemukakan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 yang berbunyi: “Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”. Secara etimologis, menurut Muh. Yamin Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki dua macam arti leksikal yaitu panca dan syila (vocal i pendek) atau syiila (vokal i panjang).  Panca berarti lima, sedangkan syila (vocal i pendek) berarti batu sendi atau dasar, dan syiila (vokal i panjang) berarti peraturan tingkah laku yang baik dan penting. Oleh karena itu, Pancasila secara harfiah dapat bermakna “dasar yang memiliki lima unsur” atau “lima aturan tingkah laku yang penting (Yamin, 1960 : 437).

Ideologi Pancasila memenuhi syarat sebagai ideologi terbuka. Syarat-syarat tersebut antara lain :

  • Nilai-nilai dan cita-cita ideologi Pancasila tidak dipaksakan dari luar melainkan dari dalam masyarakat Indonesia sendiri yang berkeinginan luhur, seperti yang tercantum dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945
  • Dasar pembentukannya bukan keyakinan ideologi sekelompok orang, melainkan keyakinan segenap bangsa Indonesia atas dasar kemerdekaan
  • Tidak diciptakan oleh negara, melainkan oleh masyarakat bangsa Indonesia yang diwakili oleh para pendiri bangsa
  • Isinya berupa nilai-nilai dasar yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat sehingga Pancasila tidak bersifat operasional.

Ideologi Pancasila yang bersifat terbuka memenuhi sifat-sifat ideologi dalam tiga dimensi, yaitu dimensi realitas, dimensi idealisme, dan dimensi fleksibilitas.

  1. Dimensi realitas dimana nilai-nilai yang terkandung bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pancasila bersumber dari norma-norma luhur yang berlaku. Pancasila juga mencerminkan realitas sifat masyarakat Indonesia seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan atau kebangsaan, kedaulatan rakyat dalam musyawarah mufakat, serta keadilan sosial sehingga masyarakat benar-benar merasa memiliki dan menghayati nilai-nilai dasar tersebut.
  2. Dimensi idealisme dimana sebuah ideologi mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara. Kelima sila dalam Pancasila juga merupakan nilai-nilai normatif dalam dimensi realitas dimana memuat cita-cita segenap bangsa Indonesia dalam mewujudkan pengakuan keesaan Tuhan dalam perbedaan agama dan kepercayaan, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan dalam keberagaman, pengambilan keputusan yang didasarkan atas demokratisme melalui musyawarah mufakat, serta keadilan sosial yang merata.
  3. Dimensi fleksibilitas dimana sebuah ideologi selalu memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu sehingga bersifat dinamis dan demokratis. Dinamis seperti dalam butir ketiga dan demokratis seperti dalam butir keempat, Pancasila memelihara keberagaman masyarakat Indonesia yang heterogen dan multikultural dengan mempersatukannya atas nama bangsa Indonesia serta menjunjung tinggi demokratisme dalam pengambilan keputusan bersama.

Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai dasar negara, sumber hukum dari segala hukum, perjanjian luhur, dan tujuan serta pandangan hidup bangsa Indonesia. Ideologi Pancasila yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia merupakan perwujudan dari nilai-nilai luhur budaya dan kondisi masyarakat yang harus dipahami dan dipertahankan oleh setiap anggota masyarakat khususnya generasi muda. Generasi muda merupakan tunas pewaris dan penerus negara sehingga sangat berperan dalam menjaga kelangsungan hidup suatu negara. Namun di era globalisasi yang membuat teknologi informasi dan komunikasi sebagai suatu kebutuhan, intensitas kaum muda dalam penggunaan teknologi dan komunikasi semakin mendukung difusi atau penyebaran pemikiran asing.  Meskpiun relevansi Pancasila terhadap kehidupan bangsa masih terbukti hingga saat ini, jika pemikiran-pemikiran dari luar terus masuk dan mempengaruhi pemikiran kaum muda Indonesia, tidak menutup kemungkinan ideologi Pancasila akan tergerus dengan ideologi-ideologi asing yang sekarang telah merambah berbagai konteks kehidupan masyarakat Indonesia seperti sosial-budaya, agama, politik, dan ekonomi. Karena tidak berasal dari lingkungan masyarakat Indonesia, kebanyakan nilai-nilai dalam ideologi asing tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa. Maka dari itu, mulai bergesernya ideologi Pancasila secara sadar maupun tidak juga akan mempengaruhi aspek-aspek dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berikut beberapa ideologi asing yang merambah Indonesia dan ketidaksesuaiannya dengan bangsa Indonesia, terutama terhadap butir-butir pengamalan Pancasila yang tercantum dalam Tap MPR No.I/MPR/2003.

  1. Konteks Sosial-Budaya

Dalam konteks kehidupan sosial-budaya, ideologi asing yang kerap dibahas misalnya liberalisme dan individualisme. Meskipun kedua ideologi ini juga mencakup dimensi kehidupan politik, agama, dan ekonomi, namun mari kita fokuskan dalam konteks kehidupan sosial-budaya di Indonesia.

Liberalisme atau paham yang menjunjung tinggi kebebasan individu, terutama bagi kaum muda yang mencintai kebebasan, menjadi hal yang umum dan tidak tabu lagi untuk diperlihatkan. Seperti rencana acara pesta bikini yang sempat menghebohkan Indonesia akhir April lalu. Jika sebelumnya kebanyakan siswa SMA merayakan kelulusan dengan mencorat-coret seragam dan melakukan konvoi motor, tahun ini siswa gabungan beberapa SMA di Jakarta dan sekitarnya berencana mengikuti pesta bikini pada malam hari. Meskipun pesta yang diselenggarakan oleh Divine Production ini gagal dilaksanakan karena tercium publik, beberapa siswa diketahui terlibat dalam penjualan tiket acara yang rencananya digelar di kolam renang sebuah hotel ini. Jika Indonesia menganut paham liberalisme, maka sah-sah saja hal tersebut dilakukan. Tetapi faktanya Indonesia menganut paham yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial-budaya dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Norma-norma dalam masyarakat antara lain norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma hukum. Jika pesta bikini tersebut dilakukan, jelas terjadi pelanggaran norma agama, kesopanan, dan kesusilaan. Belum lagi jika terbukti terdapat penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras yang juga melanggar norma hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: news.detik.com

Gambar 1: Undangan pesta bikini yang digelar Divine Prod.

 

Liberalisme yang didukung westernisasi ini merambah pemikiran kaum muda dan menciptakan doktrin bahwa mereka memiliki hak kebebasan penuh atas diri sendiri untuk berbuat apapun. Mereka menganggap hal tersebut merupakan urusan pribadi mereka, bukan urusan orang lain. Persepsi tersebut membuat mereka terpengaruh untuk ikut mempraktekkan kebudayaan barat yang bertentangan dengan kebudayaan Indonesia tanpa mengindahkan norma-norma yang telah ditanamkan sejak dini oleh sekitar. Bahkan melalui pendidikan formal, norma-norma tersebut telah ditanamkan melalui Pendidikan Kewarganegaraan sejak jenjang Sekolah Dasar.

Selain liberalisme, ada pula ideologi hedonisme dan individualisme yang juga tengah merambah generasi muda Indonesia. Hedonisme merupakan pandangan yang menganggap bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup manusia. Hedonisme sebenarnya tidak hanya berorientasi pada materi saja, tetapi juga pada kenikmatan rohaniah dan jasmaniah. Namun westernisasi menelurkan hedonisme sebagai bentuk dari gaya hidup materialisme yang mewah dan berfoya-foya. Derasnya arus penyebaran informasi melalui media-media khususnya internet semakin memicu satu sama lain untuk bersaing dalam gaya hidup modern yang kadang terkesan glamor. Kebanyakan remaja terutama di kota-kota besar menganut gaya hidup ini. Untuk memuaskan hasrat akan gaya hidup tersebut, kaum muda berlomba-lomba membeli barang-barang bermerk seperti pakaian, sepatu, tas, gadget, dll. demi mengikuti tren. Merk-merk tren tersebut kebanyakan berasal dari luar negeri dan harganyapun tidak murah. Sehingga selain melakukan pemborosan, rasa cinta terhadap produk tanah air juga turut memudar.

Semakin menjamurnya penggunaan gadget terutama smartphone dikalangan generasi muda membuat kaum muda cenderung menjadi individualis yang menjunjung tinggi kepentingan pribadi. Individualisme merupakan ideologi yang mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan golongan. Ideologi ini berdampak menurunnya sikap tenggang rasa, kekeluargaan, kesetiakawanan, dan solidaritas sosial seperti gotong royong. Gadget yang semakin canggih dan beragam membuat penggunanya sibuk dan asik akan dunianya sendiri sehingga membuat proses interaksi sosial semakin terbatas.

Nilai-nilai ideologi-ideologi dalam konteks sosial-budaya diatas sangat bertolak belakang beberapa butir dalam sila-sila Pancasila yang merupakan rangkuman dari pengaplikasian kebudayaan bangsa. Butir-butir tersebut antara lain, butir sila ke-2 mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira; butir sila ke-3 mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan; dan tiga butir sila ke-5 mengembangkan perbuatan luhur, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

  1. Konteks Agama

Selain dalam konteks sosial-budaya, masuk juga pengaruh ideologi dalam konteks agama yang bertentangan dengan butir-butir Pancasila khususnya sila pertama. Ideologi ateisme dan paham radikalisme yang ekstrim misalnya. Ateisme adalah ideologi yang tidak mempercayai maupun mengakui adanya Tuhan dan menjunjung tinggi rasionalitas. Salah satu kasus Ateisme yang sempat menghebohkan Indonesia adalah kasus Alexander Aan pada tahun 2012 lalu yang ditahan karena menyebarkan paham ateismenya melalui media sosial facebook. Ia mengunggah komentarnya yang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Ia juga mengunggah artikel yang menghina nabi Muhammad. Ateisme di Indonesia saat ini semakin marak dengan beredarnya akun-akun ateistik di jejaring sosial seperti twitter dan facebook, salah satunya adalah akun anonim twitter @Agamajinasi. Akun ini menggunakan ilmu pengetahuan sebagai tombak dasar kepercayaan mereka. Mereka menyangkal argumentasi-argumentasi agama dengan tweettweet mereka yang berdasarkan rasionalitas filsafat, bukti atau fakta-fakta yang telah terbukti dalam ilmu pengetahuan, serta sejarah-sejarah yang biasanya belum diketahui kebanyakan orang.

Sumber: https://twitter.com/agamajinasi

Gambar 2: Tweet-tweet @Agamajinasi yang menyangkal argumentasi-argumentasi agama

 

Selain ideologi ateisme, Indonesia saat ini juga resah akan ideologi radikalisme ekstrim yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS. ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) merupakan organisasi penganut radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Dalam sudut pandang agama, paham ini mengacu pada fanatisme yang berlebihan terhadap suatu agama, aliran, maupun kepercayaan sehingga memicu pengikutnya memaksakan paham yang mereka anut kepada orang lain sekalipun dengan tindak kekerasan. ISIS yang berbasis di Irak dan Suriah ini menebarkan teror ke seluruh dunia melalui media-media massa seperti televisi dan internet. Teror-teror yang ditebarkan berupa video-video aktivitas tindak kekerasan mereka yang melampaui batas kemanusiaan seperti penembakan, pemenggalan, pembakaran hidup-hidup, dll. Mereka melakukan aksi tersebut untuk memaksakan paham radikal yang mereka anut agar dianut juga oleh semua orang. Selain untuk memaksakan penerimaan atas paham mereka, ISIS juga memanfaatkan penyebaran informasi melalui internet untuk merekrut anggota-anggota baru. Banyak warga negara Indonesia yang notabenenya beragama Islam turut terpengaruh menjadi anggota ISIS. Tentu saja generasi muda menjadi target utama dalam perekrutan anggota karena selain lebih mudah dipengaruhi, generasi muda merupakan generasi penerus masa depan. Dengan demikian, cita-cita utama ISIS untuk mendirikan negara Islam murni dapat terwujud dan mereka memiliki penerus-penerus yang telah didoktrin sejak dini.

Selain paham radikalisme yang dapat mengancam kedaulatan negara, kedua ideologi dalam konteks agama diatas tidak sesuai dengan butir-butir pengamalan Pancasila sila pertama. Butir-butir tersebut antara lain :

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup diantara sesame umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan satu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Selain butir-butir sila pertama diatas, kedua ideologi tersebut juga bertentangan dengan butir-butir dalam sila kedua antara lain mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; butir sila keempat antara lain tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain; dan butir sila kelima antara lain menghormati hak orang lain.

  1. Konteks Ekonomi

Dalam konteks ekonomi, salah satu contoh ideologi yang turut mengancam Indonesia melalui globalisasi adalah kapitalisme. Kapitalisme adalah sistem dimana sektor ekonomi seperti perdangangan dan industri dikuasai oleh kaum tertentu, yang dinamakan kaum kapital, dengan tujuan untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin. Dengan kemajuan dibidang transportasi dan komunikasi, jarak dan waktu bukan lagi hambatan bagi kaum kapitalis yang menanamkan investasinya di negara lain. Dalam sektor perdagangan di Indonesia misalnya, minimarket dan supermarket serta restoran makanan cepat saji yang dikuasai oleh investor asing semakin menjamur. Hal ini menyebabkan pasar-pasar tradisional, koperasi, bahkan warung-warung makan milik masyarakat semakin terpinggirkan. Hal ini juga mempengaruhi eksistensi nilai-nilai dalam masyarakat. Dengan tawar menawar dipasar, terjadi interaksi yang memupuk nilai kesopanan dan kebersamaan. Dengan berkontribusi dalam kegiatan koperasi, terjadi interaksi untuk memupuk nilai kekeluargaan yang menjadi asas utama koperasi. Namun seiring terpinggirkannya pasar tradisional dan koperasi, nilai-nilai diatas ikut terpinggirkan pula.

Ideologi kapitalisme diatas sangat merugikan mayoritas warga menengah kebawah. Nilai-nilai kapitalisme bertentangan dengan salah satu butir sila kelima yaitu mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

  1. Konteks Politik

Salah satu ideologi asing yang merambah dunia politik Indonesia adalah kapitalisme. Seperti dalam konteks ekonomi diatas, namun bedanya kapitalisme ini merambah ke dunia politik. Seperti yang kita ketahui, pemberian ‘donasi’ oleh calon-calon pemimpin rakyat bukan hal yang tabu lagi. Mulai dari kampanye dengan memberikan dana ‘bantuan’ hingga ‘serangan fajar’ sudah menjadi cara yang wajar untuk terpilih. Nama-nama dalam partai-partai besar semakin dipenuhi oleh pengusaha dan pemodal besar yang ketika terpilihpun enggan menepati janji yang ditebarnya kepada rakyat. Kurang kritisnya rakyat dalam menggunakan hak pilihnya juga semakin membuat dunia politik dikuasai oleh orang-orang kapital yang memiliki modal materi lebih besar daripada modal simpati terhadap rakyat dan negara.

Ideologi ini berlawanan dengan butir sila ketiga dimana mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan; butir sila keempat dimana didalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan; dan butir sila kelima dimana tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Nilai-nilai ideologi asing dalam berbagai konteks diatas sangat betentangan dengan budaya Indonesia yang merupakan aspek vital dari kehidupan masyarakat. Masyarakat Indonesia, yang menurut BPS tahun 2010, terdiri dari 1.340 suku bangsa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya masing-masing. Mulai dari bentuk abstrak seperti kepercayaan, adat istiadat, cerita rakyat, dan nyanyian daerah. Hingga bentuk konkrit seperti pakaian adat, alat musik, dan rumah adat. Tiap-tiap budaya tersebut mengandung nilai-nilai luhur yang dirangkum dalam tiap-tiap sila Pancasila yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan atau kebangsaan, kedaulatan rakyat, dan keadilan sosial.

Unsur-unsur dalam kelima sila Pancasila yang digali dari diri bangsa Indonesia merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa. Identitas Pancasila terkandung dalam masyarakat bahkan sebelum negara Indonesia dibentuk. Karena ideologi merupakan fondasi bangsa dan generasi muda merupakan titik paling rawan sekaligus paling kuat dalam negara, sudah sepatutnya sebagai generasi muda penerus masa depan Indonesia, kita harus mempertahankan serta memelihara ideologi negara ini.

Tidak perlu menutup diri dari dunia luar untuk menghindari pemikiran-pemikiran diatas karena teknologi dan informasi yang dibawa oleh globalisasi juga berperan sangat penting dalam pembangunan bangsa. Sebagai bangsa dengan ideologi terbuka, kita tetap harus menghormati pemikiran-pemikiran asing tersebut karena tidak semua ideologi asing berdampak buruk tergantung bagaimana kita menerima dan menyikapinya. Untuk menghormati pemikiran-pemikiran diatas, tidak perlu juga mengubah ideologi. Cukup dengan pikiran terbuka yang menyaring segala opini namun tetap berpegang teguh pada pedoman dasar yang mempertahankan pribadi bangsa kita dari waktu ke waktu, yaitu Pancasila. Dimulai dengan menanamkan pada diri sendiri kesadaran nasionalisme, kemudian mengaplikasikannya dalam pengamalan sehari-hari mulai dari kehidupan pribadi, sosial, agama, hingga politik sesuai dengan butir-butir Pancasila untuk membentuk karakter yang berbudi luhur dan bangga akan identitas bangsa.

Tanamkan kesadaran nasionalisme, realisasikan melalui pengamalan, tumbuhkan kebiasaan, lahirkan karakter penerus yang membentuk jati diri bangsa Indonesia sebagai negara yang kokoh mempertahankan identitas namun tetap berpikiran terbuka. Mari kita buktikan bahwa ideologi Pancasila bukan hambatan untuk melaju dengan arus globalisasi, melainkan dukungan penuh bangsa Indonesia terhadap generasi muda untuk menjawab tantangan zaman. Karena dengan gempuran arus globalisasi sekalipun, kita tetap “indONEsia” yang satu, bukan “inDONEsia” yang telah usai.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

BBC Indonesia. 2015. ISIS Sebar Paham Radikal Melalui Media Digital. 1 Maret 2015. Diambil dari: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150301_radikalisme_anakmuda_sosmed (Diakses 2 Juni 2015)

Daman, Rozikin. 1999. Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

E.J. Pratt Library Victoria Universiy. 2003. Semitics Encyclopedia Online. Diambil dari : http://semioticon.com/seo/I/ideology.html# (Diakses 2 Juni 2015)

Graham, Gordon. 2015. Teori-Teori Etika. Bandung: Nusa Media.

Kaelan. 1999. Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Paradigma.

Lestyasari, Siany Indria, dan Atik Catur Budiati. 2014. Antropologi untuk Kelas XI SMA dan MA Kelompok Peminatan IBB Semester 2. Solo: Tiga Serangkai.

Pusat Bahasa Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Savitri, Ayunda W. 2015. EO Pesta Bikini: Nama SMA Dicatut karena Ada Kerjasama Jual Tiket dengan Siswa. 28 April 2015. Diambil dari : http://m.detik.com/news/read/2015/04/28/115441/2900153/10/ (Diakses 2 Juni 2015)

The Jakarta Post. 2014. Atheist Alexander Aan Gets of Prison. 31 Januari 2014. Diambil dari : http://m.thejakartapost.com/news/2014/01/31/atheist-alexander-aan-gets-prison.html (Diakses 2 Juni 2015)

UUD 1945 Periode 2009-2014. Jakarta: Palito Media.

Yayasan Jati Diri Bangsa. 2008. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Updated: June 9, 2015 — 11:03 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar