Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

Pemuda dan Pancasila Santri Pondok Pesantren sebagai Pemuda yang Berpancasila

Oleh : M.Faliq Adlan ( SMAN 2 Jombang )

Pendahuluan

Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia yang harus diamalkan. Pancasila mengandung cermin dari sikap-sikap yang luhur, serta dasar dari sikap Bangsa Indonesia. Dalam era globalisasi, banyak budaya dari nengara luar yang masuk ke Indonesia, budaya-budaya tersebut perlu disaring dengan pancasila, karena pancasila adalah cermin dari perilaku Bangsa Indoesia.

Pemuda Indonesia adalah generasi penerus bangsa dari negeri ini, namun sasaran dari budaya luar adalah pemuda negeri ini, sehingga banyak para pemuda yang bersikap tidak sesuai pancasila. Sekarang ini, banyak ditemui tawuran pelajar, yang merupakan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan pancasila. Jika, pemuda-pemuda bangsa ini tidak bersikap sesuai dengan pancasila, jika pemuda dan pemudi bangsa ini tidak bersikap sesuai dengan pancasila, maka meraka kurang dapat mennyaring budaya-budaya luar, sehingga budaya-budaya asli bangsa ini akan hilang oleh pemuda bangsa ini.

Untuk menjaga budaya-budaya Indonesia yang luhur, serta menciptakan pemuda yang berkualitas, dan pemuda yang dapat menyaring budaya-budaya luar, maka haruslah diciptakan pemuda yang mengamalkan pancasila, serta pemuda yang bersikap sesuai dengan pancasila. Salah satu cara agar menciptakan pemuda yang berpegang teguh terhadap pancasila adalah dengan menjadikan mereka santri dari pomdok pesantren.

Pondok Pesantren adalah suatu tempat dimana kita dapat belajar ilmu-ilmu agama lebih dalam, selain belajar ilmu-ilmu agama, juga sudah ada pondok pesantren modern yang memasukkan ilmu-ilmu umum. Di pondok pesantren, kita bersekolah di luar madrasah dari pesantren itu, namun kita tetap tinggal di pondok itu. Di pondok pesantren, kita dapat memiliki teman yang banyak.

Para santri dari pondok pesantren, jika lulus tentuk sudah memiliki ilmu agama yang dalam, sehingga ia dapat berpegang teguh terhadap pancasila dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jadi, salah satu cara agar para pemuda Indonesia menjadi pemuda yang berpegang teguh terhadap pancasila adalah dengan menjadikan mereka santri dari suatu pondok pesantren, sehingga pondok pesantren berperan dalam mencetak pemuda yang berpancasila. Jadi, saya sebagai penulis mengikuti madrasah dari suatu pesantren dan mengamati perlilaku dan sikap santri dan kesuaiannya dengan pancasila.

 

Isi

Pancasila

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskertapañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasilapada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

 

Pondok Pesantren

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri.

Definisi pesantren

Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, di mana kata “santri” berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan jugaTuhan.

Elemen Dasar Sebuah Pesantren

Pondok

Sebuah pondok pada dasarnya merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya (santri) tinggal bersama di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan Kyai. Dengan istilah pondok pesantren dimaksudkan sebagai suatu bentuk pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Pondok atau asrama merupakan tempat yang sudah disediakan untuk kegiatan bagi para santri. Adanya pondok ini banyak menunjang segala kegiatan yang ada. Hal ini didasarkan jarak pondok dengan sarana pondok yang lain biasanya berdekatan sehingga memudahkan untuk komunikasi antara Kyai dan santri, dan antara satu santri dengan santri yang lain.

Masjid

Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan salat Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Sebagaimana pula Zamakhsyari Dhofir berpendapat bahwa: “Kedudukan masjid sebagai sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Dengan kata lain kesinambungan sistem pendidikan Islam yang berpusat di masjid sejak masjid Quba’ didirikan di dekat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW tetap terpancar dalam sistem pesantren. Sejak zaman Nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan Islam.

 

Pengajaran Kitab-kitab Klasik

Sejak tumbuhnya pesantren, pengajaran kitab-kitab klasik diberikan sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren yaitu mendidik calon-calon ulama yang setia terhadap paham Islam tradisional. Karena itu kitab-kitab Islam klasik merupakan bagian integral dari nilai dan paham pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Penyebutan kitab-kitab Islam klasik di dunia pesantren lebih populer dengan sebutan “kitab kuning”, tetapi asal usul istilah ini belum diketahui secara pasti. Mungkin penyebutan istilah tersebut guna membatasi dengan tahun karangan atau disebabkan warna kertas dari kitab tersebut berwarna kuning, tetapi argumentasi ini kurang tepat sebab pada saat ini kitab-kitab Islam klasik sudah banyak dicetak dengan kertas putih.

Pengajaran kitab-kitab Islam klasik oleh pengasuh pondok (Kyai) atau ustadz biasanya dengan menggunakan sistem sorogan, wetonan, dan bandongan. Adapun kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan di pesantren menurut Zamakhsyari Dhofir dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok, yaitu: (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) dan Balaghah.

Kitab-kitab Islam klasik adalah kepustakaan dan pegangan para Kyai di pesantren. Keberadaannya tidaklah dapat dipisahkan dengan Kyai di pesantren. Kitab-kitab Islam klasik merupakan modifikasi nilai-nilai ajaran Islam, sedangkan Kyai merupakan personifikasi dari nilai-nilai itu.

 

Santri

Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama di pesantren. Biasanya para santri ini tinggal di pondok atau asrama pesantren yang telah disediakan, namun ada pula santri yang tidak tinggal di tempat yang telah disediakan tersebut yang biasa disebut dengan santri.

 

Kyai

Istilah Kyai bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Jawa. Kata Kyai mempunyai makna yang agung, keramat, dan dituahkan. Selain gelar Kyai diberikan kepada seorang laki-laki yang lanjut usia, arif, dan dihormati di Jawa. Gelar Kyai juga diberikan untuk benda-benda yang keramat dan dituahkan, seperti keris dan tombak. Namun pengertian paling luas di Indonesia, sebutan Kyai dimaksudkan untuk para pendiri dan pemimpin pesantren, yang sebagai muslim terhormat telah membaktikan hidupnya untuk Allah SWT serta menyebarluaskan dan memperdalam ajaran-ajaran serta pandangan Islam melalui pendidikan.

Peranan

Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertikal (dengan penjejalan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horisontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.

Banyak pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan biaya yang rendah, meskipun beberapa pesantren modern membebani dengan biaya yang lebih tinggi. Meski begitu, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, pesantren modern jauh lebih murah

Jenis pesantren

Pesantren salaf

Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja umumnya disebut pesantren salaf. Pola tradisional yang diterapkan dalam pesantren salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka – bisa dengan mencangkul sawah, mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya – dan sebagai balasannya mereka diajari ilmu agama oleh kyai mereka tersebut. Sebagian besar pesantren salafi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santrinya dengan membebankan biaya yang rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali. Para santri, pada umumnya menghabiskan hingga 20 jam waktu sehari dengan penuh dengan kegiatan, dimulai dari salat shubuh di waktu pagi hingga mereka tidur kembali di waktu malam. Pada waktu siang, para santri pergi ke sekolah umum untuk belajar ilmu formal, pada waktu sore mereka menghadiri pengajian dengan kyai atau ustaz mereka untuk memperdalam pelajaran agama dan al-Qur’an.

Pesantren modern

Pesantren yang mengajarkan pendidikan umum, di mana persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum (matematika, fisika, dan lainnya). Ini sering disebut dengan istilah pondok pesantren modern, dan umumnya tetap menekankan nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri. Pada pesantren dengan materi ajar campuran antara pendidikan ilmu formal dan ilmu agama Islam, para santri belajar seperti di sekolah umum atau madrasah. Pesantren campuran untuk tingkat SMP kadang-kadang juga dikenal dengan nama Madrasah Tsanawiyah, sedangkan untuk tingkat SMAdengan nama Madrasah Aliyah. Namun, perbedaan pesantren dan madrasah terletak pada sistemnya. Pesantren memasukkan santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak.  Ada juga jenis pesantren semimodern yang masih mempertahankan kesalafannya dan memasukkan kurikulum modern di pesantre di pesantren tersebut.

 

Hasil penelitian secara observasi lapangan di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang

Sila pertama

Ketuhanan yang Maha Esa

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Pengamalan : di pondok pesantren, para santri mengikuti pengajian kitab serta madrasah diniyah. Para santri dapat meningkatkan dan dituntut untuk lebih bertaqwa kepada tuhan yang maha esa. Kemudian, dengan diadakannya pengajian dan madrasah diniyah, maka santri dapat lebih memahami secara mendalam tentang agama, sehingga memiliki toleransi yang kuat.

Gambar jadwal madrasah diniyah

Sila kedua

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Pengamalan : di pondok pesantren, para santri diajarkan ilmu akhlak, yaitu ilmu yang mengajarkan bagaimana cara bersikap yang benar, kemudian di ponpes, mereka satu kamar dengan satri yang lainnya, sehingga di ponpes, para santri diajarkan teori mengenai cara bersikap yang benar, kemudian teori tersebut langsung diterapkan di ponpes tersebut. Di ponpes, juga terdapat santri-santri dari luar daerah, walaupun begitu mereka tetap menghormati satu sama lain. Di ponpes, jika ada santri yang sakit, maka teman-temannya akan membantunya, misalkan dengan mengumoulkan sumbangan atau dengan menjenguknya.

Sila ketiga

Persatuan Indonesia

  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Pengamalan : di ponpes, dalam membersihkan kamar masing-masing, para santri bergotong royong satu sama lain untuk membersihkan pondoknya. Dalam ajaran agama islam, hukum membela negara adalah wajib, karena umat islam rela berkorban untuk membela Madinah. Kemudian, dalam perang kemerdekaan, kita tentu melihat para santri yang rela ber[erang dan berkorban. Di ponpes, setiap santri sering bergaul dengan santri lainnya, karena mereka sering bertemu. Di ponpes Sunan Ampel, terdapat acara PLI(Pondok Liburan Intensif), dalam acara tersebut para santri haruslah baersatu dalam menggelar acara yang besar itu.

gambar salah satu acara yang memerlukan persatuan dan kerja kesar serta gotong royong yang besar.

Sila keempat

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Pengamalab : di ponpes, juga terdapat santri dari luar daerah, dan semua santri mempunyai kedudukan yang sama. Mereka juga tidak boleh memaksakan kehendak. Dalam hal ini, pelajaran akhlak berperan dalam membentuk sikap para santri. Kemudian, dalam menangani acara-acara yang besar, para santri mempercayakannya pada ketua mereka. Di ponpes, dalam mengambil keputusan para pengurus memusyawarahkannya kepada santri, misalkan mengenai kebijakan pengaturan serta hukuman, contohnya adalah adanya kewajiban mengikuti madrasah diniyah, jika tidak mengikuti maka dihukum dengan berdiri di depan saat pengajian setelah shalat magribh.

 

Gambar struktur panitia PLI.

Sila kelima

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Pengamalan : di ponpes, santri diajarkan agar adil. Peraturan di ponpes juga tidak memandang kedudukan para santri, setiap antri yang salah juga harus dihukum. Sila kelima juga terdapat dalam pelajaran akhlak. Di ponpes, setiap santri para santri harus hidup mandiri, sehingga mereka bekerja keras.

 

Konklusi

Banyak dari pelajaran di pondok pesanten yang sesuai dengan pancasila. Sila pertama identik hubungannya dengan pelajaran tauhid dan cara beribadah, pelajaran  tersebut banyak diajarkan di pondok pesantren. Sikap-sikap pada sila pertama sampai sila kelima, juga sudah pasti dijarkan pada ilmu akhlak. Sehingga saat santri mempelajari ilmu akhlak, mereka juga harus memparektekannya di ponpes tersebut.

Ponpes adalah salah satu jalan agar pemuda dapat bersikap sesuai dengan buatir-butir pancasila, karena butir-butir pancasila juga sesuai dengan ajaran  islam. Jadi, jika suatu pemuda belajar di pondok pesantren, dapat dipastikan saat ia lulus, maka ia menjadi pemuda yang berpancasila.

Pengamalan santri yang sesui dengan pancasila di ponpes, sebenarnya membuktikan jika seorang ahli agama, dapat berperilaku sesuai dengan pancasila. Ini berarti jika pemuda di Indonesia belajar lebih dalam mengenai agama, maka pemuda tersebut dapat berperilaku yang sesuai dengan pancasila. Karena pemuda yang berketuhanan yang maha esa dapat menjadi pemuda yang adil dan beradab, kemudian sekumpulan pemuda yang adil dan berabab dapat bersatu dan setelah itu bermusyawarah untuk mengambil keputusan, dan akhirnya terjadilah keadilan sosial di sekumpulan pemuda itu.

 

 

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila

http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren

Updated: June 9, 2015 — 11:01 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar