Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

PEMUDA INDONESIA PEMUDA PANCASILA

Oleh : Vika Hamdana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Vika Hamdana

 

 

 

 

 

 

MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 JEMBER

2015

Pemuda Indonesia, Pemuda Pancasila

 

Sudah pantaskah kita menjadi pemuda Indonesia?

Sering kali dari kita mengatakan I love Indonesia, I proud Indonesia, atau hal lain semacamnya. Tetapi pada kenyataannya, banyak dari kita yang tidak memahami identitas atau jati diri negara kita tercinta ini yaitu Pancasila. Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi negara yang merupakan kesepakatan politik para founding father mulai banyak diabaikan. Pemuda-pemudi Indonesia saat ini mungkin sudah kehilangan ruh Pancasila. Pancasila hanya untuk dihafal dan disuarakan lantang saat upacara bendera tanpa dipahami dan diterapkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Hal ini dibuktikan dengan data jawaban kuesioner pemahaman 100 pelajar SMA tentang pancasila sebagai berikut:

Data Kuesioner Pemahaman 100 pelajar MA/SMA Tentang Pancasila

 

 

Dari paparan data di atas dapat dilihat bahwa para pelajar sekarang hanya mengetahui dan menghafal kelima sila yang ada di dalam Pancasila. Bahkan dengan lambang-lambang Pancasila pun mereka masih banyak yang tidak tahu dan tidak hafal. Percuma Pancasila dibaca dan selalu digema-gemakan di setiap upacara hari Senin, hari Kemerdekaan, dan hari nasional lainnya bila tak ada tingkah laku yang mengimbanginya. Apa yang bisa dibanggakan jika pemuda Indonesia tidak bisa menunjukkan jati diri negaranya?

Menurut Dr. Didik Suprayitno setelah reformasi, masyarakat khususnya kaum muda seolah memperoleh kebebasan tanpa batas. Semboyannya “sekali merdeka, merdeka sekali”. Jadi Pancasila seolah tidak diperlukan lagi. Akibatnya, terjadi konflik di mana-mana akibat tidak diamalkannya nilai-nilai Pancasila. Apalagi di era globalisasi ini, era dimana masyarakat atau bangsa khususnya kaum remaja yang masih mempunyai sikap labil harus siap menghadapi tantangan global yang bersifat multidimensi. Barang siapa yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan maka akan menjadi korban yang akan tenggelam di tengah-tengah arus globalisasi.

Adapun konflik-konflik yang terjadi akibat lunturnya nilai-nilai Pancasila, salah satunya adalah gerakan radikalisme yang sudah masuk ke dunia pendidikan dan kalangan kaum pemuda. Gerakan radikal tersebut banyak menyisipkan pahamnya dan menyebarluaskan jaringannya tersebut melalui sekolah-sekolah dan juga kampus. Para mahasiswa dan siswa yang masih pada tahap pencarian identitas diri menjadi sasaran paling strategis untuk memperkuat gerakan radikalisme keagamaan ini. Sebagai konsekuensi atau akibat menguatnya paham radikal, banyak siswa yang pemahaman keislamannya menjadi monolitik dan gemar menyalahkan pihak lain. Menurut Muhammad Najib Azca dalam “Yang Muda, Yang Radikal: Refleksi Sosiologis Terhadap Fenomena Radikalisme Kaum Muda Muslim di Indonesia Pasca Orde Baru” (2012), setidaknya ada 3 faktor yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena radikalisme di kalangan kaum muda. Pertama, dinamika sosial politik di fase awal transisi menuju demokrasi yang membuka struktur kesempatan politik (political opportunity structure) yang baru di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian. Kedua, transformasi gerakan radikal Islam yang sebagian memiliki geneologi pada awal kemerdekaan. Ketiga, tingginya angka pengangguran di kalangan kaum muda di Indonesia. Jadi ketiga faktor itulah yang berjalan beriringan bersama faktor lain sehingga menyebakan radikalisme tumbuh subur di kalangan generasi muda.

Sejatinya, radikalisme merupakan satu langkah atau satu tahap sebelum terorisme. Pada umumnya, para teroris yang banyak melakukan bom bunuh diri mereka memiliki pemahaman yang radikal terhadap berbagai hal khususnya soal keagamaan. Hal itu karena perbedaan di antara keduanya sangat tipis, dalam istilah Rizal Sukma (2004), “Radicalism is only one step short of terrorism.” Dan itu tampak ketika banyak para teroris melegitimasi tindakannya dengan paham keagamaan radikal yang mereka anut. Oleh karena itu pihak sekolah khususnya kepala sekolah lebih peduli terhadap paham-paham keagamaan yang diajarkan dalam kegiatan rohis di sekolah. Serta sekolah harus ikut serta dalam menanamkan nilai-nilai luhur pancasila terutama sila pertama agar para pelajar yang merupakan calon penerus bangsa tidak terjerumus ke dalam radikalisme apalagi sampai pada terorisme.

Tak hanya itu, yang lebih parah lagi saat ini pemuda kita lebih dekat dengan pergaulan bebas, tawuran antarsekolah, kebut-kebutan di jalan raya, bolos sekolah berjamaah, pesta miras, main judi, menggunakan narkoba, menonton film porno, remaja yang hamil di luar nikah, dan peningkatan terjadinya aborsi yang menunjukkan betapa rendahnya etika pemuda bangsa kita.

Para remaja sekarang lebih sering membicarakan gaya hidup dibanding membahas masalah nasionalisme dan kebangsaan serta ideologi negara. Padahal generasi muda merupakan generasi penerus suatu bangsa. Apabila generasi penerus suatu bangsa baik, maka baiklah bangsa tersebut di masa yang akan datang begitu juga sebaliknya. Lagi-lagi masalah tersebut terjadi akibat lunturnya identitas bangsa Indonesia. Rakyat mengalami krisis identitas yang berdampak besar pada kehidupan bangsa baik sekarang maupun yang akan datang. Banyak dari kalangan orang tua, tokoh masyarakat, pemuka agama, apalagi para pendidik yang merasa resah akan sikap dan perilaku pemuda zaman sekarang. Namun mereka tidak begitu mengambil peran, sikap, dan kontribusi secara jelas dan nyata untuk mencari solusi dan pemecahannya.

Satgas Anti-Pornografi yang baru dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diharapkan dapat menurunkan angka pergaulan bebas di kalangan remaja. Terlebih lagi pergaulan bebas di kalangan remaja saat ini ditengarai sebagai salah satu penyebab tingginya angka HIV/AIDS.

 

 

Data Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2008, dari 4726 responden siswa SMP dan SMA DI 17 kota besar, 97% siswa SMP dan SMA itu pernah menonton film porno serta 93,7% pernah melakukan ciuman, meraba kemaluan, ataupun melakukan seks oral. “Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan, dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi,” ujar anggota Komisi IX DPR RI, Herlini Amran, Rabu (14/3/2012) di Jakarta. Serta perilaku seks bebas pada remaja ini, menurut Herlini, tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga sudah merambah di desa. Dilihat dari latar balakang ekonominya, perilaku seks bebas tidak hanya dilakukan oleh remaja dari keluarga miskin tetapi juga kaya. (nasional.kompas.com/read/2012/03/14)

Berdasarkan paparan di atas salah satu penyebab yang mungkin terjadi adalah tradisi bahwa kebanyakan orang Indonesia tak mau memberikan pendidikan seks sejak dini kepada anak-anak mereka. Berbicara tentang seks di rumah dianggap tabu. Padahal edukasi seks sejak dini ini amat penting diajarkan oleh orang tua. Pakar pendidikan anak dari Multiple Intelligence and Holistic Learning, Edi Wiyono, menjelaskan bahwa anak sudah bisa dikenalkan dengan pendidikan seks ketika mereka bertanya tentang organ intim. Menurut Edy, orang tua tak perlu kaget jika mereka menanyakan hal itu. Justru momen itu bisa dimanfaatkan sebagai pintu untuk pendidikan seks. (blog.duitpintar.com > Beranda » > Blog » > Keluarga »).

Apalagi di era globalisasi di mana teknologi komunikasi dan informasi berkembang dengan sangat pesat. Apabila anak dibiarkan dan tidak diawasi dalam menyikapi hal tersebut, besar kemungkinan mereka akan terjerumus dan tenggelam di dalamnya. Misalnya menonton film porno di internet. Awalnya mereka terus terbayang akan film tersebut, setelah itu mereka ketagihan untuk menonton film itu lagi dan lagi hingga memiliki hasrat tersendiri untuk mempraktikannya dalam kehidupan nyata.

Kasus lain yang tak kalah berbahayanya terhadap kualitas bangsa yaitu penggunaan narkoba. Berikut grafik data kasus tindak pidana narkoba tahun 2007-2011.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kasus tindak pidana narkoba yang tiap tahunnya selalu menempati posisi tertinggi dibandingkan narkotika, psikotropika, dan bahan aditif. Lagi-lagi perbuatan yang keji selalu diajarkan atau dipamerkan kepada yang muda. Mereka dirayu, dibujuk, dan diajak untuk mencoba menggunakan narkoba. Bahkan jika dari mereka ada yang tidak mau mereka tak segan-segan dikatakan tidak gaul dan tidak keren. Setelah mereka terbujuk dan terjerumus masuk ke dalamnya, para pelajar akan terus kecanduan menggunakan narkoba, narkotika, ataupun psikotropika sehingga otaknya akan mengalami kelumpuhan. Jika sudah begitu, mereka akan lupa kewajibannya untuk belajar dan membangun bangsanya menjadi lebih baik. Bagaimana tidak jika nilai-nilai keluhuran Pancasila yang selama ini sudah diajarkan baik dari sekolah maupun keluarga dengan sekejap hilang bagai ditelan malam.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, sebanyak 22 persen pengguna narkoba di Indonesia dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sumirat mengatakan, umumnya pengguna yang berada di kelompok 15–20 tahun menggunakan narkotika jenis ganja dan psikotropika seperti Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Megadon. Artinya dari empat juta orang di Indonesia yang menyalahgunakan narkoba, 22 persen di antaranya merupakan anak muda yang masih duduk di bangku sekolah dan universitas. Sejak 2010 sampai 2013 tercatat ada peningkatan jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi tersangka kasus narkoba. Pada 2010 tercatat ada 531 tersangka narkotika, jumlah itu meningkat menjadi 605 pada 2011. Setahun kemudian, terdapat 695 tersangka narkotika, dan tercatat 1.121 tersangka pada 2013.

Kecenderungan yang sama juga terlihat pada data tersangka narkoba berstatus mahasiswa. Pada 2010, terdata ada 515  tersangka, dan terus naik menjadi 607 tersangka pada 2011. Setahun kemudian, tercatat 709 tersangka, dan 857 tersangka di tahun 2013. Sebagian besar pelajar dan mahasiswa yang terjerat UU Narkotika, merupakan konsumen atau pengguna.

Pada 2011 BNN juga melakukan survei nasional perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Dari penelitian di 16 provinsi di tanah air,  ditemukan 2,6 persen siswa SLTP sederajat pernah menggunakan narkoba, dan 4,7 persen siswa SMA terdata pernah memakai barang haram itu. Sementara untuk perguruan tinggi, ada 7,7 persen mahasiswa yang pernah mencoba narkoba.

Setiap tahun, baru ada sekitar 18 ribu pengguna yang mendaftarkan diri ke program rehabilitasi. Untuk kelompok pelajar sendiri, pada 2013 tercatat ada 456 pelajar dan 391 mahasiswa yang mengikuti program rehabilitasi dari BNN.

(http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2014/09/13/8219/29/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-Kalangan-Pelajar)

Selain masalah-masalah besar yang dipaparkan di atas masih banyak lagi masalah-masalah kecil yang juga memberikan pengaruh besar dalam membentuk karakter suatu bangsa, antara lain:

  • Melakukan kebohongan dan menyontek saat ujian atau ulangan berlangsung.

Menyontek, memang kata yang tidak asing bagi seorang siswa. Apalagi ketika ujian atau ulangan. Ditambah lagi dengan guru pengawas yang biasanya tidur saat menjaga ujian. Mereka tidak berusaha menanamkan kedisiplinan dan kejujuran kepada mereka sehingga hal itu menjadi suatu kebiasaan atau bahkan adat istiadat bagi setiap siswa. Jadi, masalah ini jika dibiarkan berlarut-larut dan tidak ditanggapi maka akan merusak nilai-nilai luhur pancasila. Salah satu contoh ketika kasus anak SD di Surabaya yang melaporkan temannya yang nyontek ketika ujian nasional. Apa yang terjadi? Anak tersebut dan keluarganya diusir oleh masyarakat karena dianggap berbuat hal yang tidak pantas. Institusi pendidikan yang menanamkan karakter kejujuran ternyata menjilat ludah sendiri dengan berlaku seperti itu. Masyarakat yang seharusnya mendukung, ternyata malah balik mengusir. Hal ini tentunya sangat aneh dan gila, orang jujur diusir dan dikucilkan. Mau dibawa kemana negara ini kalau mindset masyarakatnya seperti itu?

  • Balap liar atau kebut-kebutan di jalan raya

Kejadian ini memang tak jarang disaksikan oleh kebanyakan orang. Kebut-kebutan tersebut biasanya dilakukan oleh anak-anak atau remaja. Banyak dari mereka yang belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Mereka tidak pernah menyadari betapa pentingnya mengutamakan keselamatan dalam berjalan. Catatan IPW memperlihatkan sejak 2009 hingga kini sudah terdapat 195 orang tewas di arena balap liar. “Tahun 2009 terdapat 68 orang tewas di arena balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun pengeroyokan. Tahun 2010 ada 62 orang tewas dan 2011 terdapat 65 tewas,” tulis Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam rilisnya, Minggu (Kompas.com, 15/4).

  • Pesta miras

Kini, peristiwa tersebut tidak hanya terjadi di daerah perkotaan namun juga telah masuk di pedesaan. Padahal dulu, anak-anak desa biasa terkenal dengan keluguannya. Tapi sekarang anak desa tak lagi berbeda dengan anak kota pada umumnya. Zaman memang benar-benar sudah rusak atau bisa dikatakan hampir kembali lagi seperti zaman jahiliyah. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2007 mencatat, remaja pengonsumsi miras di Indonesia masih diangka 4,9 persen. Jumlah ini meningkat signifikan pada 2014 menjadi 23 persen dari total jumlah remaja sekitar 14,4 juta jiwa, berdasarkan riset Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM). (http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pola-konsumsi-miras-dikalangan-remaja-meningkat/)

  • Tawuran atau perkelahian pelajar

Sepanjang Januari-Otober 2013, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar. Jumlah ini meningkat sekitar 44 persen dibanding tahun lalu yang hanya 128 kasus. Dalam 229 kasus kekerasan antarpelajar SMP dan SMA itu, 19 siswa meninggal dunia. (http://nasional.tempo.co/read/news/2014/12/07/079626922/Soal-Tawuran-Pelajar-KPAI-Tak-Setuju-Soal-Sanksi).

  • Merokok

Survei Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah perokok yang mulai merokok pada usia di bawah usia 19 tahun, dari 69 % pada tahun 2001 menjadi 78 % pada tahun 2004. Survey ini juga menunjukkan trend usia inisiasi merokok menjadi semakin dini, yakni usia 5-9 tahun. Perokok yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun mengalami peningkatan yang paling signifikan, dari 0,4 % pada tahun 2001 menjadi 1,8 % pada tahun 2004.   (http://www.kpai.go.id/tinjauan/menyelamatkan-anak-dari-bahaya-rokok/)

  • Pembunuhan

Catatan dari IPW tentang kejahatan sadis yang dilakukan anak:

  1. 05 Oktober 2014. Tiga pelajar nekat mencekik dan menggorok leher teman mainnya hingga tewas. Kemudian mengambil hp dan sepeda motor korban Chaerul (16) pelajar SMK Mercusuar. Ketiganya adalah Rio Santoso (15) Pelajar SMK Karya Ekonomi, Ikhwan (16) Pelajar SMP Nurul Ikhsan, dan M Febriyansah (14) pelajar SMP Nurul Ikhsan. Berbekal pisau, korban dianiaya hingga tewas di depan Pasar Modern, Perumahan Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur.
  2. 13 Juni 2014. Dua anggota geng pencuri kendaraan. bermotor yang masih di bawah umur, yakni IH (17) dan SS (16) diciduk polisi di Cisauk, Tangerang. Sementara ketuanya, Irfan alias Keling (18) terpaksa ditembak kakinya karena melawan saat hendak ditangkap. Aksi terakhir yang mereka lakukan terjadi 11 Juni 2014 malam. Jeri Irawan (20) yang sedang melintas bersama temannya di Jl Raya Pasar Jengkol, Tangerang. Mereka pukul hingga jatuh dan diambil sepeda motornya.
  3. 04 Mei 2014. Renggo Khadafi (10) tewas setelah dianiaya teman sekelasnya Sy (10) pada 28 April 2014. Aksi penganiayaan dilakukan di dalam kelas dan disaksikan teman-temannya di Kelas V SDN 9 Makasar, Jakarta Timur.

(http://www.kpai.go.id/berita/kpai-anak-terlibat-kriminalitas-karena-terinspirasi-lingkungan-tak-ramah-anak/).


                                                        

Pancasila sebagai internalisasi nilai-nilai karakter bangsa Indonesia

Sardiman (2010:1) mengatakan Bung Karno pernah berpesan kepada kita bangsa Indonesia, bahwa tugas berat untuk mengisi kemerdekaan adalah membangun karakter bangsa. Apabila pembangunan karakter bangsa ini tidak berhasil, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli (Soedarsono, 2009). Dari pesan tersebut dapat dipahami jika pemuda Indonesia tidak memiliki karakter seperti yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila, maka bangsa ini akan mudah dijajah kembali oleh negara lain.

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila yang pertama yaitu nilai Ketuhanan yang Maha Esa yang merupakan pemahaman kepada bangsa Indonesia untuk beriman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Mereka diberi kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing tanpa adanya rasa takut atau ancaman dari pihak luar. Serta nilai ini menjadi pegangan teguh untuk menolak pengaruh globalisasi yang mengarah pada atheisme dan sekulerisme. Kedua, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab menunjukkan sebuah pemahaman kepada bangsa Indonesia untuk bersikap adil kepada sesama manusia, menghormati harkat dan martabat manusia, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Ketiga, nilai persatuan Indonesia memberikan pemahaman kepada bangsa Indonesia untuk senantiasa menempatkan persatuan, kesatuan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi/golongan. Karena dengan penyatuan dari segala perbedaan maka akan terbentuk sebuah kekuatan besar yang akan memajukan bangsa. Keempat, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Nilai ini memberikan pengertian kepada bangsa Indonesia untuk bersikap demokratis yang dilandasi dengan tanggung jawab. Jadi nilai ini juga yang akan membentengi kita agar tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Dan yang terakhir adalah nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang memberikan pemahaman dan penyadaran kepada bangsa Indonesia atas hak dan kewajibannya yang sama dalam menciptakan keadilan dan kemakmuran. Oleh karena itu, kita harus mengembangkan sikap kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat agar terhindar dari pengaruh globalisasi yang mengarah pada liberalisme.

Dari beberapa contoh kasus di atas, banyak sekali hal-hal yang kita remehkan namun sebenarnya memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dan jika ini dibiarkan berlarut-larut maka akan berakibat fatal pada keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia di masa depan.  Untuk itu, marilah kita kembalikan lagi arah nahkoda kapal kita pada falsafah negara kita Pancasila dalam menyongsong masa depan Indonesia yang berkarakter. Karena negara yang kuat adalah negara yang memiliki karakter yang kuat pula.

Ingatlah tetesan darah yang mengalir dari para pahlawan demi terbentuknya sebuah negara yang bebas dari tangan penjajah dan negara yang berdiri dengan sebuah ideologi yang terkandung di dalam Pancasila. Pancasila merupakan harga mati yang tidak akan pernah terganti. Jangan biarkan Pancasila hanya sebagai sejarah. Tak ada jalan lain yang harus dilakukan untuk mengembalikan kesaktian Pancasila selain menanamkan kembali sejarah awal tentang berdirinya Pancasila.

Dan yang lebih penting, marilah kita kenal kembali Pancasila sebagaimana kata pepatah yang berbunyi Ignoty Nulla Fides, tak kenal maka tak sayang. Kita implementasikan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Lalu tancapkan dalam-dalam di hati dan letakkan 5 cm di atas kening, di dekat impian kita agar tetap terjaga dan tentu saja membuat kita berjiwa, berpikir dan bertingkah laku secara pancasialis (Lutfiyah, 2014). Almarhum K.H. As’ad Syamsul Arifin pernah berkata, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan dan harus dijaga kelestariannya.

 

 

 

 

 

Apabila kita sebagai generasi muda mau menaati, mengamalkan, mempertahankan dan menjaga kelestarian Pancasila, insyaallah Indonesia akan jaya. Terakhir, teriakkan dengan lantang kepada dunia. Inilah diri kita seutuhnya, Indonesia tanah airku, Pancasila ideologiku. Bangkitlah pemudaku, bangkitlah Indonesiaku. Merdeka!

Daftar Pustaka

 

 Estede, Suprapto. 2013. http://supraptoestede.blogspot.com/2013/11/pendidikan-pancasila-dan-pembangunan.html.  Bojonegoro

 

Muhammad Najib Azca dalam “Yang Muda, Yang Radikal: Refleksi Sosiologis Terhadap pdfF

http://maarifinstitute.org/images/xplod/jurnal/vol%20viii%20no%201%20juli%202013.pdf

 

Suprayitno,didik.2011.http://publikasi.kominfo.go.id/bitstream/handle/54323613/807/2.%20Pancasila,%20Negara%20Kesejahteraan,%20dan%20Ketahanan%20Masyarakat.pdf?sequence=1Jakarta: Kementrian Komunikasi dan Informatika RI

 

Sumber lain:

 

http://www.kompasiana.com/infokespro/komisi-nasional-perlindungan-anak-komnas-pa-bias-gender_550e2571813311c32cbc61d6

https://blog.duitpintar.com/pilih-mana-anak-seks-bebas-atau-berikan-edukasi-seks-sejak-dini

http://megapolitan.harianterbit.com/megapol/2014/09/13/8219/29/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-Kalangan-Pelajar

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pola-konsumsi-miras-dikalangan-remaja-meningkat/

http://nasional.tempo.co/read/news/2014/12/07/079626922/Soal-Tawuran-Pelajar-KPAI-Tak-Setuju-Soal-Sanksi

http://www.kpai.go.id/tinjauan/menyelamatkan-anak-dari-bahaya-rokok

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-anak-terlibat-kriminalitas-karena-terinspirasi-lingkungan-tak-ramah-anak/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Updated: June 9, 2015 — 11:27 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar