Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

Remaja Indonesia, Masihkah Ideologimu Pancasila?

Oleh : Tegar Hanggoro Mukti (SMK 2 PGRI Ponorogo )

Indonesia sebagai negara yang memiliki kepribadian berdasarkan azas-azas tertentu telah memiliki aturan tersendiri dalam menentukan perilaku yang pantas ataupun tidak pantas bagi kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri. Kepribadian suatu bangsa sering disebut juga dengan ideologi bangsa. Pengertian ideology sendiri merupakan suatu kata yang diadaptasi dari bahasa Yunani, yakni berasal dari kata eidos dan dari bahasa Inggris yakni idea yang berarti gagasan atau konsep pengertian dasar, cita-cita. Kemudian diadaptasi dari kata logos yang berarti ilmu. Berdasarkan pengertian tersebut, ideologi merupakan suatu gagasan maupun ide tentang dasar – dasar ajaran dan pengetahuan yang mengakar pada suatu bangsa. Ideologi berasal dari kata. Fauzie dan Machrus (2003) mengatakan bahwa pengertian lain dari ideologi adalah suatu gagasan hidup yang dibuat oleh suatu individu dan diyakini sebagai landasan agar tercipta keharmonisan. Ideologi ini juga dianggap sebagai karakter dan ciri khas suatu kelompok atau suku. Ideologi juga menunjukkan kepribadian dan keyakinan yang harus ditaati oleh suatu anggota dalam satu kelompok atau suku.

Berbicara masalah ideologi, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memegang teguh konsep dasar dalam sebuah ideologi. Ideologi dijadikan sebuah karakter yang mampu membawa nama baik kepribadian bangsa. Keberadaan ideologi di Indonesia sangat kental, dimana hal ini berhubungan dengan adat – istiadat dan juga kekukuhan budaya Indonesia (Josiah, 2011). Membahas mengenai ideologi di Indonesia, pasti semua tertuju pada Pancasila. Seperti yang kita ketahui, bahwa ideologi yang berkembang di Indonesia adalah ideologi Pancasila. Menurut Prasetya (2011), pancasila adalah keseluruhan pandangan, cita – cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia yang secara normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila dinyatakan sebagai ideologi Negara Republik Indonesia dengan tujuan bahwa segala sesuatu dalam bidang pemerintahan ataupun semua yang berhubungan dengan kehidupan bernegara harus dilandasi oleh faktor – faktor pembatas tertentu yang telah ditentukan. Selain itu, segala sesuatu yang dilakukan sebagai wujud ketaatan terhadap ideologi juga harus dibatasi dalam gerak pelaksanaannya dan diarahkan, sehingga tujuan dalam pancasila dapat dicapai.

Pancasila sebelum dirumuskan sebagai dasar negara dan ideologi negara nilai-nilainya telah terdapat pada bangsa Indonesia itu sendiri dan menjelma menjadi pandangan hidup bangsa hingga akhirnya disepakati sebagai dasar negara. Hal inilah yang menyebabkan Pancasila dijadikan sebagai pandangan hidup negara dan juga sebagai ideologi negara. Pancasila sebagai ideologi negara memiliki sifat yang dinamis, terbuka dan reformatif. Ideologi yang dimiliki oleh suatu bangsa mempunyai ciri khas masing – masing. Namun juga terdapat ideologi pada suatu negara yang sifatnya dipaksakan. Hal ini menyebabkan cerminan nilai dari kepribadian dan karakteristik bangsa tersebut menjadi tidak sesuai dengan kaidah – kaidah yang berlaku di masyarakat. Berlainan dengan hal tersebut, berdasarkan filsafat pancasila yaitu suatu Negara persatuan, kebangsaan serta bersifat integralistik. Indonesia sebagai negara Pancasila adalah negara kebangsaan yang berketuhanan Yang Maha Esa serta berkeadilan sosial.

Kenyataan bahwa Pancasila sebagai ideologi bagi seluruh bangsa Indonesia saat ini sangat diragukan kebenarannya. Kenyataan bahwa ideologi pancasila yang ada di Indonesia telah terkontaminasi dengan ideologi – ideologi lain serta masuknya budaya asing ke Indonesia tanpa saringan turut dalam proses kontaminasi ideologi pancasila di Indonesia. Kebenaran akan dasar – dasar dalam ideologi pancasila saat ini hanya menjadi wacana saja. Prasetya (2011) mengatakan bahwa pancasila sebagai ideologi merupakan suatu konsep yang membantu tatanan masyarakat yang didalamnya menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial dan budaya yang citacitakan oleh individu, kelompok, golongan atau masyarakat luas yang kemudian menjadi landasan untuk bertindak. Kondisi ini sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan awal pembentukan pancasila sebagai ideologi. Kaidah serta norma – norma dalam pancasila kini semakin terbawa oleh arus modernisasi.

Benar jika dikatakan bahwa orang – orang pada generasi yang sudah tua telah mengamalkan nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila. Namun bagaimana dengan kalangan remaja? Masih adakah dari mereka yang mengamalkan nilai – nilai dasar dalam Pancasila?  Para pemuda sebagai generasi penerus bangsa tentunya memiliki peran penting dalam mengamalkan nilai – nilai Pancasila itu sendiri. Ironisnya, kalangan pemuda di masa ini mengalami penurunan moral bangsa. Pengagungan budaya barat dan isu kebobrokan negeri yang dipublikasikan di media masa turut serta dalam mengikis rasa bangga dan nasionalisme terhadap budaya bangsa Indonesia.

Lemhannas (2012) mengatakan bahwa era modernisasi yang semakin menggoda kalangan muda seakan bak virus pencuci otak yang terus mengikis dan melunturkan jati diri bangsa. Ideologi Pancasila yang sesungguhnya memiliki kandungan makna yang mulia justru semakin terpuruk dan terperosok terlalu dalam ke jurang pengasingan ideologi lokal karena rendahnya kesadaran kaum muda. Menurut Ibrahim (2010), Pancasila yang merupakan dasar negara kini nyaris hanya muncul sebagai teori yang didengungkan pada pembelajaran formal yang mereka tempuh tanpa ada realisasi yang nyata sebagai wujud dari aplikasi penjiwaan terhadap rasa nasionalisme bangsa. Pancasila hanya dilafalkan sebagai pidato kecil dalam upacara. Posisi Pancasila saat ini kian mengalami kemerosotan, nilai – nilai yang terkandung di dalamnya nyaris terlupakan. Generasi muda terus terbuai oleh pesona modernisasi yang justru condong ke arah negatif. Mereka seolah semakin tersesat dan terlampau jauh melencong dari kaidah pancasila. Anehnya, mereka justru terlihat menikmati setiap masukan – masukan negatif tersebut tanpa ada beban fikiran sedikitpun.

Lalu akan hilangkah kemuliaan dari nilai – nilai yang terkandung di dalam ideologi Pancasila ini? Tentunya harus ada kesadaran yang benar – benar nyata untuk menampik hal tersebut. Generasi muda harus menjadi generasi yang peduli terhadap bangsa. Dalam diri mereka harus tertanam dengan kokoh nilai – nilai agung dan mulia dari Pancasila sehingga tidak akan pernah luntur dari diri mereka mengenai ideologi Pancasila yang telah ada sejak dahulu kala dan menjadi jati diri serta keyakinan dan karakteristik bangsa Indonesia ini. Kaum muda memang belum sepenuhnya dewasa untuk menanggapi hal tersebut. Masa – masa seusia mereka memang masih gencar – gencarnya dalam pencarian jati diri. Sifat yang labil masih tertanam kuat di diri mereka. Perasaan yang selalu ingin mencoba segala hal yang baru, ingin dianggap insan yang dinamis dan senantiasa memiliki hasrat untuk mencoba segala perubahan – perubahan demi mengikuti arus, yang katanya agar tidak ketinggalan zaman. Rasanya akan sulit menumbuhkan rasa kesadaran yang nyata secara mandiri tanpa dorongan serta dukungan dari pihak lain.

Masa muda sebagai masa – masa emas dalam pencarian jati diri memang masa yang sangat menentukan kemana arah mereka akan dituju. Sokongan dari berbagai pihak harus benar – benar tepat agar mereka menjadi generasi emas penerus bangsa yang memiliki jiwa cerminan dari ideologi Pancasila. Bimbingan dari orang – orang di sekitar mereka tentu menjadi salah satu faktor penentunya. Tuntunan dari orang terdekat utamanya orang tua akan menggambarkan kepribadian mereka di masa yang akan datang. Lingkungan tempat mereka tumbuh juga tak bisa terlepas dari hal tersebut. Seperti yang dikatakan seorang pepatah, bahwa “orang yang bergaul dengan penjual parfum, maka mereka akan tertular wanginya”. Ya, pepatah tersebut rasanya tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Generasi muda yang tumbuh di lingkungan yang benar – benar baik maka di dalam diri mereka juga akan tertanam nilai – nilai terpuji sebagai deskripsi dari apa yang ditanamkan dalam diri mereka. Demikian juga generasi muda yang senantiasa taat akan nilai – nilai serta patuh dan percaya terhadap kaidah pancasila, maka dalam diri mereka akan tercipta moral pemuda yang berlandaskan nasionalisme sebagai penggambaran dari nilai luhur Pancasila. Penggambaran tersebut akan mengukuhkan karakteristik yang telah luntur dari pemuda Indonesia.

Memang tidak cukup rasanya hanya “mengajarkan” teori – teori ideologi Pancasila. Teori yang mereka peroleh dari pembelajaran formal hampir dapat dikatakan hanya sekedar hembusan angin, hanya sekedar suara asing yang masuk ke telinga kanan dan berlalu begitu saja keluar lewat telinga kiri. Otak mereka akan kembali tercuci oleh kemajuan – kemajuan teknologi. Segala kegiatan yang dianggap membuat mereka menjadi orang yang telah sesuai dengan perkembangan zaman menjadi landasan atas apa yang harus dan tidak harus mereka lakukan. Pemikiran – pemikiran generasi muda saat ini bahwa Game Online terlalu asyik untuk ditinggalkan, atau sinetron – sinetron perusak moral di televisi terlalu sayang untuk dilewatkan. Tak akan ada lagi yang tersisa di dalam benak mereka mengenai apa itu ideologi bangsa? Tentang apa itu dasar negara? serta apa itu Pancasila? Semuanya akan kembali menjadi tanda tanya besar yang ironisnya akan sulit mereka jawab ketika keluar di soal ujian. Lalu bagaimana? Mendidik dengan baik dan tepat diharapkan setidaknya akan memberikan hasil yang setingkat lebih baik dibandingkan dengan hanya mengajarkan mereka.

Bayangkan saja bagaimana generasi muda memahami nilai luhur dari ideologi Pancasila apabila setiap hari mereka belajar di sekolah hanya dengan teori – teori tentang Pancasila yang mereka rasa sudah cukup menjenuhkan dan membosankan, teori – teori yang diberikan seolah wacana dan bacaan yang cukup untuk idketahui saja tanpa harus dipahami dan diamalkan. Sedangkan ketika mereka berada di rumah menonton televisi yang semuanya berbeda dari yang mereka pelajari dan malah membuat mereka merasa nyaman dengan tampilan – tampilan yang mereka rasa sangat menyenangkan dan memberikan hiburan, justru memberikan pengaruh yang sebaliknya, yakni condong ke arah pengaruh yang negatif. Walaupun ada sebagian dari mereka yang mengerti Pancasila, namun hal tersebut dirasa percuma. Kondisi tersebut dikarenakan pada era sekarang ini para pemuda yang memiliki potensi besar sebagai penerus bangsa tidak memiliki banyak ruang untuk melakukan tugas mereka dalam rangka membawa Indonesia untuk mencapai ke arah yang lebih baik lagi. Mereka mengutarakan bahwa hal tersebut tidak dapat mereka lakukan dengan alasan minimnya pengalaman mereka dan merasa disingkirkan oleh golongan tua yang katanya lebih memiliki pengalaman. Tak sedikit pula para pemuda yang lebih memilih untuk mengkritisi dan mencemooh negeri sendiri yang dirasa tak adil dan terlalu rumit. Jarangnya sosialisasi mengenai nilai – nilai luhur yang terkandung di dalam dasar negara yakni Pancasila kepada kalangan pemuda membuat terhambatnya rasa nasionalisme para pemuda penerus bangsa itu sendiri. Seperti yang dikatakan Naiborhu (2012), hal tersebut sangat disayangkan, padahal Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia tentu saja di dalamnya menyimpan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia yang perlu diwariskan kepada generasi – generasi muda agar kepribadian bangsa Indonesia tetap eksis dan terjaga kemurniannya. Selain itu juga pewarisan ideologi ini bermaksud agar para pemuda paham dengan apa yang harus mereka lakukan dalam meneruskan memimpin bangsa Indonesia di masa selanjutnya.

Calam dan Sobirin (2008) mengatakan bahwa rasa cinta tanah air, pendalaman ilmu tentang wawasan kebangsaan harus tertanam kuat di diri mereka sejak kecil. Nilai luhur yang terkandung di dalam ideologi Pancasila harus tertambat kuat di hati mereka sebelum racun kontaminan dari dunia luar menghancurkan benteng – benteng di hati mereka. Pembelajaran dan pengembangan pemikiran yang kuat diharapkan mampu melahirkan konsep serta gagasan – gagasan tentang cara kehidupan bernegara, sehingga mampu membawa bangsa kea rah selanjutnya namun tetap membawa budaya. Pengetahuan yang sejak dini telah mereka dapatkan harus benar-benar diwujudkan di kehidupan sehari – hari. Rasanya hal tersebut akan jauh lebih baik dibandingkan hanya sekedar teori belaka. Dengan demikian mereka akan mengetahui makna yang nyata dari ideologi Pancasila melalui aplikasi yang nyata pula. Ya, sehingga tidak akan muncul istilah “No Action Talk Only”. Wujud nyata menjadi PR besar dalam hal ini, tetapi selagi sebesar apapun PR tersebut penyelesaian merupakan satu – satunya kunci yang mampu menumbangkannya sebelum menjadi masalah klasik yang nyaris tanpa solusi.

Indonesia belum rapuh dan runtuh. Generasi muda ibu pertiwi belum jatuh. Semuanya masih sempurna dan utuh. Mempertahankan negeri bukannya tanpa peluh, semuanya akan terjaga sampai seisi bumi lumpuh. PEMUDA, merekalah generasi emas penerus bangsa, merekalah kader – kader pemimpin bangsa. Kepada siapa lagi kita berharap selain kepada mereka? Tiada orang lain selain mereka. Lalu akankah semua membiarkan mereka terus tergoda oleh era globalisasi dan modernisasi yang mewabah di negeri ini? Semua orang pasti dengan tegas akan menjawab tidak. Sangat sayang apabila bangsa yang agung bernama Indonesia kehilangan kejayaan. Sangat sayang apabila ungkapan “tongkat, kayu dan batu jadi tanaman” perlahan meredup dan menghilang. Bukankah ini negeri bak surga? Bahkan lautan saja seperti kolam susu. Kitalah sebagai kaum muda yang akan terus menjaga eksistensinya. Kaum mudalah yang juga akan menikmati surga di bumi pertiwi ini.

Banyak ditemui di media masa berita – berita mengenai kebobrokan bangsa. Tawuran pemuda, seks bebas, narkoba serta minuman keras terlalu akrab dengan dunia anak muda. Begitulah yang disampaikan di tulisan pada koran – koran maupun pernyataan – pernyataan yang disampaikan oleh penyiar berita di televisi. Lalu bagaimana dengan hal tersebut? Dengan tegas saya akan menjawab semuanya belum berakhir. Semuanya masih bisa diperbaiki. Mereka masih memiliki potensi penentu maju atau mundurnya suatu bangsa. Tidak sedikit prestasi yang terukir di ranah internasional. Tidak sedikit mereka yang masih sadarkan dan mengamalkan nilai – nilai luhur dari ideologi Pancasila.

Para pemuda generasi emas penerus bangsa sekarang diharapkan mampu menjadi pemuda yang tidak hanya tau, tetapi mengerti, memahami dan mengamalkan serta menjaga dan membentengi Pancasila. Terasa sedikit sulit memang mewujudkan hal tersebut. Salah satunya kembali lagi ke masalah klasik, “No Action, Talk Only”. Berbagai pihak hanya sekedar “menginginkan” tetapi tidak “mendidik” mereka. Dan akhirnya kebanyakan dari mereka pada akhirnya hanya men-judge dengan kata – kata sindiran sampai umpatan tanpa mengetahu akar dari permasalahannya. Generasi muda di era sekarang ini juga sebenarnya hanya menjadi korban. Ya, mereka adalah korban dari kelalaian para orang-orang tua yang mungkin hanya mementingkan kepentingan pekerjaan. Mereka nyaris yang tidak peduli dengan pentingnya menanamkan nilai Pancasila dan pentingnya menjaga serta mencintai bangsanya sendiri. Para generasi muda bukannya tidak peduli, hanya saja mereka tidak mengerti dan tidak dididik mengenai hal tersebut.

Pemuda penerus bangsa, merekalah impian. Merekalah tunas yang akan menumbuhkan serta mengembangkan bangsa. Pemupukan orangtua dan orang – orang yang harusnya betanggungjawab kepada pemuda harusnya lebih sensitif. Pemuda masih memiliki ideologi. Ideologi yang masih mereka cari. Pertanggungjawaban atas orang – orang disekitarnya harus ditanyakan. Penanaman ideologi seperti apa yang telah mereka bibitkan? Ideologi pancasila dikalangan pemuda tetap harus ditanamankan oleh orang – orang disekitar mereka. Bimbingan terhadap pengamalan ideologi Pacasila dikalangan muda harus melalui penuntunan yang lebih intens. Pemuda Indonesia masih bisa. Ideologi pemuda Indonesia masihlah Pancasila. Ya, pemuda Indonesia yang berideologi Pancasila.

 

DAFTAR PUSTAKA

Calam, A. dan Sobirin. 2008. Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara. SAINTIKOM, 4(1): 146 – 154.

 

Fauzie, A. dan Machrus, H. 2003. Kepribadian Otoritarian dan Ideologi Politik (Studi Kualitatif Terhadap Fungsionaris Dan Simpatisan Empat Partai Politik Di Surabaya). INSAN Media Psikologi, 5(3): 1 – 14.

 

Ibrahim, A. 2010. Perspektif Futuristik Pancasila Sebagai Asas/Ideologi dalam UU Keormasan. Konstitusi, 3(2): 129 – 148.

 

Josiah, T. 2011. Pemahaman dan Penerapan Ideologi dalam Peran Guru Ideal. Pendidikan Penabur, 10(17): 39 – 55.

 

Lemhannas. 2012. Memperkokoh Nilai – Nilai Pancasila di Seluruh Kompinen Bangsa untuk Memantapkan Jiwa Semangat Kebangsaan dan Jiwa nasionalisme Ke-Indonesia-an dalam Rangka Menangkal Ideologi radikalisme Global. Kajian Lemhannas RI, Edisi 14: 97 – 121.

 

Naiborhu, M. 2012. Pembudayaan Nilai-Nilai Luhur Pancasila Melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Darma Agung, 11(1): 79 – 88.

 

Prasetya, I. Y. 2011. Pergeseran Peran Ideologi dalam Partai Politik. Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, 1(1): 30 – 40.

Updated: June 9, 2015 — 11:26 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar