Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

REMAJA PENUH EKSPRESI

Oleh : Nurul Azizah ( SMAN Klakah )

Diera modern sekarang ini, banyak generasi muda yang cepat membaur dengan zaman yang bisa dikatakan semua berbau teknologi tentu ini berdampak bagi remaja tersebut baik positif maupun negatif. Mengingat remaja merupakan pihak yang rentan terkontaminasi perubahan zaman. Adapun dampak positifnya seperti rata-rata kaum muda tidak gaplek atau ketinggalan zaman. Namun tidak sedikit juga dampak negatif yang terjadi, seperti ketergantungan terhadap teknologi, penyalahgunaan teknologi tersebut dan menjadikan remaja lebih individual. Maka dari itu saya memilih pembahasan ini selain saya juga berada dikalangan remaja sehingga memudahkan saya untuk lebih memahami pembahasan tersebut, saya juga ingin tahu lebih banyak dan lebih jauh tentang remaja dan juga kesadarannya akan pancasila.

Dasar negara merupakan fundamen atau pondasi dari bangunan negara. Kuatnya fundamen suatu negara, berakibat lemahnya negara tersebut. Sebagai dasar negara Indonesia, pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (Filosofiche gronslag dari negara) staats fundamentele norm, weltans chauung dan juga diartikan sebagai ideologi negara (staatsidee). Negara kita Indonesia dalam pengolaan atau pengaturan kehidupan bernegara ini dilandasi oleh filsafat atau ideologi pancasila. Memahami peran pancasila diera modern, khususnya dalam konteks sebagai dasar negara, merupakan tuntutan hakiki agar setiap warga negara indonesia memiliki pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan, peranan dan fungsi pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apalagi manakala dikaji perkembangannya secara konstitusional terakhir ini dihadapkan pada situasi dan kondisi yang tidak kondusif sehingga kridibilitasnya menjadi diragukan, diperdebatkan, baik dalam wacana politis maupun akademis.

Secara etimologis “Pancasila” berasal dari sangsekerta dari India (Bahasa Kasta Bralimana). Bahasa rakyat biasa adalah bahasa prakerta. Menurut Muhammad Yamin “Pancasila” memiliki dua macam arti secara leksikal “Panca” artinya lima “Syila” vocal i pendek artinya “Satu sendi” “alas” atau “dasar”. “Syila” vocal i panjang artinya peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh” perkataan pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan Budha di India pada kitab Sua Tri Pitaka yang terdiri dari 3 macam buku besar.

Dalam menjunjung tinggi nilai pancasila tentu tidak terlepas dari dukungan generasi muda atau generasi masa depan penerus cita-cita bangsa untuk tetap menjadikan pancasila sebagai aturan tindakan dan tingkah laku dalam pergaulannya. Jika seorang atau beberapa kelompok remaja sudah mulai dan peduli terhadap dasar negara mereka, tentu mereka akan lebih menghormati dan menghargai serta menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Mereka akan selalu menjaga tingkah laku atau perbuatan mereka karena mereka tahu, mereka adalah generasi penerus bangsa yang sangat sadar bahwa keutuhan, kesejahteraan, dan kesuksesan bangsa ada ditangan mereka. Mereka tidak akan pernah berpikir untuk melakukan tindakan bodoh yang nantinya akan merugikan bangsa dan membuat negara Indonesia semakin terpuruk. Mereka akan selalu berpikir dan bekerja keras untuk menciptakan inovasi yang tentunya positif dan berguna untuk bangsa. Mereka akan paham bahwa hidup mereka harus berguna, baik untuk masyarakat maupun bangsa indonesia karena tidak akan menyia-nyiakan masa muda mereka hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Mereka akan selalu berpegang teguh pada makna dari setiap sila dalam pancasila. Sehingga, sepuluh sampai dua puluh tahun kedepan mereka benar-benar membawa bangsa indonesia jauh lebih baik dari sekarang.

Namun, pada kenyataannya remaja sekarang jauh dari apa yang diidam-idamkan oleh bangsa dan tokoh yang telah berjuang dahulu. Tidak jarang dari mereka lebih minat atau tertarik mempelajari pergaulan dari pada pendidikan pancasila. Padahal mereka merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya lebih peduli terhadap negara sesuai dengan makna pancasila tepatnya sila ketiga yaitu persatuan indonesia, para remaja harus berperan serta dalam menciptakan persatuan dengan tetap menjaga perdamaian antar kaum tertentu, bukan malah ikut tawuran sana sini demi menjaga gengsi. Karena kesadaran nasionalisme menurun, mereka menganggap tulisan “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hanya sebuah pajangan saja dan tak memikirkan makna yang terkandung didalamnya. Mereka tidak menjadikan pancasila sebagai kiblat pergaulan. Otomatis, tingkah laku remaja saat ini cenderung bebas dan egois, mereka tidak lagi peduli terhadap negaranya, jiwa nasionalisme mereka sudah memudar atau bahkan hilang. Bayangkan saja, anak muda sekarang lebih mengetahui dan hafal lagu-lagu pop daripada lagu daerah dan lagu nasional. Tidak jarang juga mereka tidak hafal kelima sila dalam pancasila. Sangat miris mengingat mereka merupakan generasi bangsa yang harusnya lebih tahu dan menguasai serta peduli terhadap dasar negaranya sendiri. Remaja saat ini juga cenderung tertutup dan tidak mau membaur, bahkan kepada saudara atau tetangga dekat enggan untuk menyapa, mereka lebih asik bermain gadget masing-masing. Kalau itu digunakan untuk hal positif tentu tidak masalah seperti mengakses materi atau soal-soal untuk dipelajari, menambah teman melalui media sosial seperti Facebook, twitter, BBM, line serta aplikasi lain. Dengan tujuan menambah teman dari daerah yang sama atau bahkan berbeda, ini bagus karena kita dapat mengetahui budaya, tradisi, dan seni dari daerah lain sehingga dapat menambah pengetahuan, menjalin silaturrahmi dan menumbuhkan semangat kesatuan yang sangat erat. Namun, tidak jarang keadaan teknologi yang semakin canggih justru disalahgunakan. Seperti mengakses gambar dan video porno, praktek penipuan melalui facebook dan media lain serta baru-baru ini juga marak beredar prossitusi online ini semakin memperburuk citra anak muda indonesia. Oleh masyarakat, mereka terkadang hanya dianggap penalu.

Selain itu, antar remaja juga sering terjadi kesenjangan sosial. Misalnya perbedaan suku atau budaya dapat mengakibatkan timbulnya jarak untuk melakukan hubungan pertemanan. Gara-gara disaerah tersebut suku A mempunyai lebih banyak masa, otomatis suku B cenderung terabaikan. Ini mengakibatkan kelompok atau individu dari suku B merasa kurang diterima keadaannya dan cenderung menyendiri. Ini merupakan salah satu akibat dari kurangnya pengetahuan tentangdari suku B merasa kurang diterima keadaannya dan cenderung menyendiri. Ini merupakan salah satu akibat dari kurangnya pengetahuan tentang makna dari pancasila terutama sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukankah kita semua sama dihadapan Tuhan, lalu mengapa kita harus bersikap seolah-olah kita adalah yang paling tinggi dan yang paling sempurna sehingga kita kurang mudah menerima yang lain. Padahal belum tentu kita lebih baik daripada mereka. Selain itu bullying juga rentan terjadi pada kalangan remaja. Perbedaan status sosial membuat seorang remaja lebih berani memperlakukan remaja lain sesuka hati mereka. Mereka tidak pernah memikirkan apakah orang itu senang atau tidak, twerganggu atau tidak serta merasa risih atau tidak. Mereka hanya menginginkan kepuasan setelah bertindak demikian. Terkadang setelah keinginannya tercapai, mereka akan lebih puas. Tentu ini tidak sejalan dengan makna yang terkandung dalam pancasila. Terkadang remaja yang cenderung melakukan hal yang menyimpang memiliki latar belakang yang kurang baik. Misalnya, mereka korban broken home yang kurang kasih sayang dan membutuhkan perhatian dengan cara melakukan hal yang terbilang nekad, karena mereka ingin menonjol walaupun dengan cara yang salah. Mereka hanya ingin dianggap ada oleh lingkungannya. Padahal tentu mereka masih bisa melakukan hal yang menonjolkan mereka dengan cara lain dan tentunya positif seperti, mengikuti les, ikut Palang Merah Indonesia, sanggar tari atau kegiatan positif yang lain supaya tidak ada waktu bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Bukankah orang-orang yang aktif dihal-hal positif dan mengetahui lebih banyak hal lebih keren daripada orang yang biasanya hanya tawuran. Sangat menyakitkan ketika melihat remaja yang rata-rata masih SMA atau baru lulus SMP menjadi pelaku begal. Mereka tega membunuh saudara setanah air hanya untuk mewujudkan keinginan mereka yang ingin mendapatkan barang milik korban. Padahal jika mereka mau dan benar-benar berniat untuk bekerja dengan cara yang halal, pasti mereka akan mendapatkannya. Bukankah Tuhan pasti selalu membantu hambanya yang bersungguh-sungguh dan mau bekerja keras. Biaya hidup yang semakin tinggi juga mendorong anak muda bersikap demikian. Mereka melakukan hal apapun supaya dapat bertahan hidup. Mereka tidak bisa lagi berpikir rasional. Jika ada kesempatan mereka pasti akan segera melakukan tindakan tersebut. Mereka lupa atau bahkan tidak tahu bagaimana sulitnya pejuang terdahulu menegakkan dasar negara. Padahal mereka hanya tinggal menikmati saja serta memikirkan bagaimana cara mempertahankannya. Bukan dengan melakukan kekacauan dimana-mana, seperti mengkonsumsi narkoba, minum-minuman keras dan melakukan seks bebas. Itu sama sekali tidak mencerminkan perilaku yang terpuji bagi generasi penerus bangsa. Mereka tidak berpikir panjang dari akibat yang telah diperbuatnya sekarang. Itu akan sangat merugikan bagi diri mereka dan orang lain. Orang yang sering melakukan seks bebas akan rentan terjangkit virus HIV dan AIDS. Begitupun dengan mengkonsumsi narkoba dan minum-minuman keras yang akan merusak organ tubuh. Ini semakin merusak moral anak Indonesia. Bagaima yang akan terjadi pada bangsa Indonesia dimasa mendatang jika sekarang saja tidak sedikit remaja yang melakukan penyimpangan yang telah disebutkan diawal. Jika masih tetap seperti ini, generasi emas hanya tinggal nama, generasi hanya tinggal harapan dan tidak ada wujud nyata. Remaja sekarang harus mulai berpikir dewasa dalam menyikapi masalah serta mengurangi kegiatan yang tidak berguna dan merugikan orang lain serta bertentangan dengan pancasila. Mereka harus mengeri bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus berguna untuk bangsa. Mereka bukan lagi anak kecil yang akan ditertawakan oleh kakaknya ketika melakukan kesalahan. Mereka harus mengubah paradigma masyarakat bahwa remaja sekarang tidak hanya pintar tawuran, ikut kelompok begal, minum-minuman keras, membunuh orang, membeda-bedakan teman, dan tak peduli pada pancasila. Tapi mereka adalah aset masa depan bangsa yang patut diperhitungkan.

Penyimpangan masih marak dilakukan oleh remaja kita. Mereka enggan peduli terhadap makna pancasila sehingga mereka melakukan penyimpangan tersebut. Mereka hanya melakukan hal-hal yang membuat mereka senang tanpa peduli dampak yang akan terjadi selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA
http://bembyagus.blogspot.com

http://lasonearth.wordpress.com/makalah/falsafah-pancasila-sebagai-dasar-falsafah-negara-indonesia/

 

Updated: June 9, 2015 — 11:07 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar