Festival Sholawat Hadrah

Semua Jenis Sholawat

Dilematika Pemuda Globalisasi dan Pemuda khilafah dalam Memahami Pancasila

Oleh : Ahmad Ma’lufil Waro ( MAN 1 Jember )

Indonesia adalah negara yang memiliki pulau terbanyak di dunia. Dimana setiap gugusan pulau dihuni oleh suku yang berbeda. Ada Suku Jawa, Suku Madura, Suku Bali, Suku Bugis, Suku Dayak, Suku Batak, dan setiap suku memiliki bahasa, budaya dan adat yang berbeda. Indonesia juga dihuni oleh penduduk dengan beragam agama, ada Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Katolik.

Sembilan puluh tahun yang lalu para pemuda di seluruh Indonesia mengucapkan sumpah untuk menyatukan segala bentuk perbedaan yang ada di Indonesia menjadi satu dalam tanah air Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia, dan berbangsa satu Bangsa Indonesia. Dewasa ini Indonesia merindukan sosok pemuda yang berjiwa revolusioner, pemuda yang berhati besar dan kreatif, pemuda yang bermoral dan menjunjung tinggi nilai kebagsaan, namun kerinduan itu sulit untuk diwujudakan dengan melihat realita yang terjadi  saat ini.

Di abad ke-20 ini Pemuda Indonesia mulai kehilangan jati diri mereka. Mereka malu dengan budaya mereka sendiri dan mengatakan kalau budaya Indonesia sudah ketinggalan zaman. Mereka lebih bangga bisa menari modern ala One Direction ketimbang bisa menari jaipong yang merupakan warisan leluhur mereka. Bukan hanya budaya tapi juga berbagai macam sendi kehidupan sudah mulai terpengaruh oleh dunia barat. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus bukan tidak mungkin ideologi pemuda kita akan terpengaruh oleh dunia barat.

Benarkah Pemuda Indonesia sudah melupakan ideologi bangsa ini? Dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat dan semakin bannyaknya ganget-ganget canggih secara tidak lansung telah mempengaruhi indeologi negara ini. Adanya media social seperti facebook, twitter secara tidak langsung telah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan seperti Silaturrahmi, Gotong Royong dan hilangnya Bhineka Tunggal Ika dalam jiwa mereka. Karena mereka asik dengan kesenangan dirinya sendiri tanpa sedikitpun memikirkan nasib bangsa ini. Apakah ini generasi Indonesia massa depan? Betapa menyedihkannya bangsa ini jika kita melihat kejadian 67 tahun yang lalu ketika Pemuda dari berbagai kalangan bersatu membebaskan Kota Surabaya yang dikuasai oleh Sekutu. Mereka rela mati demi  kemerdekaan bangsa ini.

Selain itu Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, oleh sebab itu Indonesia memiliki banyak sekali aliran agama islam dari yang tradisionalis sampai yang radikal. Sehingga tidak sedikit dari Pemuda kita yang terpengaruh oleh gerakan-gerakan radikal yang mengatas namakan agama islam sebagai kambing hitam. Yang lebih memilukan lagi ada Pemuda Indonesia yang tidak mau dengan pancasila dan simbol negara Indonesia lainnya, karena mereka sudah terpengaruh oleh ideologi radikal yang mengatasnamakan agama islam.

Kenapa mereka yang berpaham radikal mampu mempengaruhi pemuda kita? Karena sekarang pemuda Indonesia sudah mulai melupakan dan tidak percaya lagi terhadap ideologi pancasila yang menjadi jati diri bangsa ini. Mereka resah dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Mereka meyakini para Koruptor, Pemimpin yang tidak amanah adalah hasil dari Ideologi yang disebut dengan Pancasila. Sehingga dengan mudah paham radikal akan menjadi titik perpecahan bangsa ini dan dengan mudah berkembang. Bahkan sebagian dari mereka sudah berani menunjukkan keberadaan mereka secara terang-terangan. Tapi dengan alasan kebebasan berpendapat dan HAM pemerintah membiarkan gerakan radikal ini. Meskipun saat ini gerakan radikal yang berusaha untuk memecah belah NKRI hanya dalam skala kecil, tapi jika dibiarkan bukan tidak mungkin gerakan ini akan menjadi gerakan berskala besar dan menjadi ancaman bagi Indonesia.

Padahal pancasila bukanlah pidato yang disampaikan oleh Bung karno untuk menyelesaikan perdebatan tentang dasar negara Indonesia pada saat sidang BPUPKI. Dalam kata pengatar atas dibukukannya pidato pancasila, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebutkan bahwa pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”. ”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.”

Jadi pancasila bukan hanya berasal dari pidato Soekarno saja, tapi Pancasila adalah Ideologi dasar bagi negara Indonesia. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila dirumuskan oleh tokoh pemimpin seperti Ir. Soekarno, Muh. Yamin, KH. Wahid Hasyim dan tujuh tokoh lainnya yang tergabung dalam panitia Sembilan.

Namun realitas yang ada saat ini membuktikan bahwa Pemuda Indonesia sudah mulai melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Jika pancasila benar-benar dijadikan pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara oleh Pemuda Indonesia, bukan tidak munkin Indonesia akan menjadi negara yang bermartabat dan bermoral. Namun sayangnya pemuda kita enggan untuk menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.

Segala problematika Pemuda saat ini sebenarnya dapat teratasi jika generasi muda benar-benar menerapkan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Namun sayangnya ada pemuda yang menganggap pancasila itu tidak relevan. Meskipun ada pemuda yang mengaku mencintai pancasila, tapi mereka tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila seutuhnya. Mereka memang mempunyai nilai nasonalisme yang cukup tinggi, tapi apakah nasionalisme saja sudah cukup untuk memahami makna pancasila? tidak, karena dalam pancasila telah dirumuskan nilai-nilai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan kepada nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, dan Keadilan sosial. Banyak sekali para pemuda yang memiliki nasionalisme yang tinggi, tapi masih tidak sesuai dengan sila yang pertama”Ketuhanan yang Maha Esa” hal ini dibuktikan dengan berbagai pemikiran-pemikiran liberal yang sudah mempengaruhi pemikiran pemuda kita. Seperti, berusaha untuk melegalkan ganja, narkaoba, sex bebas, dan pernikahan sesama jenis. Seperti halnya kejadian Siswi SMA se-Jakarta yang mempunyai rencana merayakan lulusan mereka dengan mengadakan pesta bikini. Dimana Tuhan mereka? Apakah mereka percaya adanya Tuhan? Atau kesenangan saja yang ada dalam benak mereka? Itulah fakta yang harus segera diperbaiki oleh bangsa ini, karena nasib bangsa ini ada di tangan pemuda kita.

Namun sayangya problematika ini dibiarkan terus berlanjut, dan menganggapnya sebagai  persoalan kecil. Seperti halnya tawuran pelajar yang terjadi di Bekasi yang menyebabkan salah seorang pelajar dari SMK Al-Muhajirin tewas, bahkan baru-baru ini ada 10 pelajar di Semarang yang tertangkap polisi, gara-gara membacok seseorang di depan musholla. Apakah ini hasil dari sistem pendidikan di  Indonesia? Apakah mereka tidak pernah diajarkan tentang makna dari sila ke-dua ”keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia?” padahal jika mereka benar-benar memahami maksud dari sila kedua, tidak akan ada lagi pelajar yang tawuran atau melakukan perbuatan kriminal. Karena dalam sila kedua dijelaskan tentang bagaimana cara hidup berbangsa dan bernegara salah satunya adalah tentang mengakui persaman derajat manusia dan kewajiban antara sesama manusia,  dengan cara saling mencintai antar sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta berani membela keadilan dan kebenaran. Siapakah yang pantas disalahkan atas segala bentuk tindakan kriminal yang dilakukan oleh pelajar? Guru atau siswanya yang salah, atau sistem pendidikannya yang salah?

Dewasa ini maraknya aksi terorisme yang terjadi di Indonesia membuat agama islam menjadi agama yang paling disalahkan atas kejadian ini. Sampai-sampai banyak sekali situs-situs islam yang diblokir oleh KOMINFO. Yang lebih parah lagi pesantren-pesantren dianggap sebagai sarang teroris. Padahal sebenarnya di pesantrenlah banyak dilahirkan pemuda-pemuda yang memiliki jiwa nasionalis dan agamis yang sesuai dengan jiwa pancasila. Namun realita yang terjadi sekarang justru malah negara yang selalu menindas agama sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan terorisme selalu dikaitkan dengan agama islam. Agama islam dijadikan sebagai agama yang selalu identik dengan kekerasan dan radikalisme. Apakah islam itu? Islam bukanlah agama yang menjadikan kekerasan sebagai satu-satunya jalan pintas dalam berdakwah, tapi islam adalah agama yang menjadikan kasih sayang sebagai metode utama untuk berdakwah. Tapi negara hanya memandang islam sebagai pemberontak, padahal mereka yang memberontak bukanlah islam yang asli dari Indonesia, mereka adalah islam yang tidak percaya dengan sila ke-tiga”Persatuan Indonesia” karena bagi mereka perang adalah jalan utama. Padahal pada abad ke-7 islam dibawa oleh wali songo sama sekali tidak menggunakan kekerasan tapi mampu membuat banyak sekali penduduk Indonesia, yang awalnya memeluk agama hindu budha menjadi muslim yang ta’at.

Ironisnya saat ini banyak sekali pemuda Indonesia yang terpengaruh oleh gerakan anti Indonesia yang dipimpin oleh wali jenggot. Saat ini banyak sekali wadah-wadah yang menyebabkan perpecahan di bumi pertiwi ini. Namun ironisnya gerakan-gerakan anti NKRI dibiarkan berkembang bahkan kegiatan dakwah mereka ada yang dipublikasikan di media nasional. Dengan mengatasnamakan HAM pemerintah tidak berani membubarkan gerakan anti NKRI ini. Apakah kita hanya menunggu Indonesia ini hancur?

Faktor terbesar yang menjadi problematika negeri ini dan sulit untuk diselesaikan, karena minimnya moral dan kejujuran para pemimpin dan wakil rakyat yang seharusnya mengayomi rakyat justru malah sebaliknya. Kehancuran moral para pemimpin membuat generasi muda kurang percaya terhadap sistem pemerintahan dan sistem demokrasi yang ada di Indonesia. Sehingga pemuda pejuang khilafah menganggap bahwa sila ke-empat ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” merupakan produk yang menghasilkan orang-orang tidak bermoral. Sehingga mereka berusaha mengubah sistem demokrasi negeri ini menjadi sistem khilafah. Mana yang lebih baik, khilafah atau demokrasi? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sistem demokrasi, namun permasalahannya bukan terletak pada sistem demokrasinya, tapi terletak pada sistem pendidikan Indonesia yang belum berhasil mencetak generasi muda yang berkarakter, jujur, bermoral, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang terkandung dalam pancasila. Hal ini dapat dibuktikan saat pemuda kita yang duduk di bangku SD, SMP, SMA saat menghadapi ujian nasional. Bukan belajar untuk menjadi yang terbaik yang ada dipikiran mereka tapi malah bagaimana caranya mencari kunci jawaban yang akurat untuk mendapatkan nilai ujian nasional yang memuaskan. Siapa yang pantas disalahkan atas kejadiaan ini? Pemerintah atau pihak sekolah yang salah?

Perubahan zaman bukan berarti perubahan tingkah laku para pemuda Indonesia. Dengan kemajuan teknologi, dan semakin mudahnya informasi, serta gaya hidup yang begitu mudahnya masuk di negeri ini tanpa melalui filterisasi, membuat pemuda bangsa ini melupakan jati diri bangsa Indonesia serta mematahkan cita-cita para leluhur pejuang kemerdekaan Indonesia yang tercantum dalam sila ke- lima ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pemuda saat ini sudah mengalami perubahan yang sangat drastis, karena pengaruh globlalisasi. Kebiasaan-kebiasaan bangsa ini mulai hilang diterpa zaman. Pemuda tidak peduli lagi tentang kebersamaan, kekeluargaan, kegotongroyangan, menghargai, menolong, menghormati, dan berbuat adil. Pemuda masa kini hanya peduli pada kesenangan mereka sendiri. Lantas, jika dibiarkan terus-menerus siapa yang akan menjadi generasi pemimpin, generasi pejuang, generasi terbaik bangsa ini. Apakah ini yang menjadi cita-cita para leluhur kita?

Segala bentuk permasalah bangsa ini sebenarnya sudah ada solusinya yang telah dirumuskan oleh panitia Sembilan yang dipimpin langsung oleh tokoh revolusioner yaitu Bung Karno. Sekarang bagaimana caranya agar pancasila dapat dipahami dan dijadikan pendoman dalam hidup berbangsa dan bernegara oleh pemuda kita. Rata- rata pemuda Indonesia menghabiskan waktunya di lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan di sekolah.

Solusi yang terbaik adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemuda dalam membangun negeri ini. Sistem sekolah yang ada di Indonesia hanya terfokus pada aspek akademik saja. Dan kurang memperhatikan aspek moral dan agama. Pelajaran tentang nasionalisme seperti PKN dan tetang moral seperti pendidikan agama hanya mendapatkan porsi sedikit dalam sistem pengajaran. Jika pelajaran-pelajaran yang sifatnya mendidik moral dan karakter pemuda Indonesia diberikan porsi lebih banyak dalam sistem pengajaran maka akan menghasilkan pemuda-pemuda yang tidak hanya jenius tapi juga pemuda yang berkarakter dan bangga dengan Indonesia.

Kadang pelajaran saja tidak cukup untuk mendidik moral pemuda Indonesia di sekolah. Karena  pemuda masa kini cenderung lebih suka tindakan dari pada teori yang membosankan. Dengan mendirikan komunitas yang terfokus pada masalah-masalah kenegaraan dan keaggamaan. Dengan begitu siswa tidak perlu mencari wadah untuk berorganisasi diluar sekolah yang sifatnya radikal atau anti NKRI.  Karena bangsa ini merdeka dengan  adanya Persatuan. Jadi, peran komunitas sangat penting dalam mencetak pemuda yang bermoral dan berkarakter.

Selain di sekolah, pemuda Indonesia juga banyak menghabiskan waktu di rumahnya atau di lingkungan sekitar rumahnya. Saat di rumah, peran keluarga menjadi sangat penting untuk mencetak pemuda yang bermoral dan berkaakter. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendidik anak-anak mereka tentang nasionalisme, agama. Karena kebanyakan orang tua saat ini tidak peduli dengan apa yang terjadi pada anaknya. Bagi mereka yang terpenting adalah anak mereka bisa sekolah, bisa makan, dan bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Tapi orang tua jarang mengetahui kondisi batin anaknya. Seharusnya orangtua harus mampu menjadi teman curhat bagi anak-anak mereka, dan tidak mendidik anaknya dengan otoriter, sehingga tidak akan ada anak yang melampiaskan kegalaunnya dengan mengkosumsi narkoba. Maka dari  itu peran serta keluarga sangat dibutuhkan dalam mencetak generasi muda yang tangguh  serta berwawasan kebangsaan. Karena pemuda banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Selain Keluarga, lingkungan juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam mendidik prilaku pemuda Indonesia. Dalam kitab ta’lim al- muta’alim karangan Imam Az – Zarnuji dijelaskan ”Jika seseorang berkumpul dengan orang-orang yang baik maka orang itu akan menjadi baik, begitu sebaliknya jika seseorang berkumpul dengan orang-orang jahat maka orang itu akan menjadi jahat” disinilah linkungan memiliki peran yang tidak kalah penting dari sekolah dan Keluarga. Untuk itu, perlu didirikan komunitas pemuda di desa-desa. Dan menjadikan pemuda agar dapat berperan aktif dalam membangun lingkungannya dengan cara mengajak pemuda untuk merealisasikan aspirasi mereka. Indonesia ada karena perjuangan para Pemuda yang gigih dan memiliki semangat yang tinggi untuk memerdekakan negeri ini dari berbagai bentuk penjajahan. Bung Karno, dalam pidatonya pernah mengatakan, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Referensi

  1. com-pengertian Pancasila
  2. com-sejarah dan lahirnya pancasila
  3. com-10 begal remaja disemarang bacok korbannya dimusala
  4. com-tawuran pelajar dibekasi 1 tewas
  5. com-pesta bikini kelas vvip bertarif rp.5 juta
  6. com-bangun dan bergeraklah pemuda Indonesia
  7. com-makalah krisis remaja pada era globalisasi
  8. Hisbut-tahrir.or.id-pemuda-pemudi menolak kapitalisme demokrasi
  9. com-kontroversi pemblokiran situs Islam
  10. okezone.com-kronologi bocornya soal UN 2015
  11. Kitab ta’limul muta’alim bab mencari teman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Updated: June 10, 2015 — 4:00 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Festival Sholawat Hadrah © 2017 Frontier Theme
Skip to toolbar